Translate

Jejak Kita - Bagian 1

Perkenalan

  Hari yang cerah mendorong Raffie pergi menuju kediaman temannya. Letaknya tak jauh dari tempat dimana ia tinggal. Hanya butuh waktu tempuh kurang lebih  seperempat jam saja untuk sampai disana.
Ia pikir tak apa-apa  jika sepagi ini mampir untuk sekedar menikmati secangkir kopi, seperti juga yang biasa temannya lakukan.
Di ujung jalan Raffie berpapasan dengan teman yang akan ia tuju. Usai bertegur sapa, mereka bergegas pergi.
Selang beberapa saat, Dion menerima nasi bungkus yang di sodorkan padanya. Sambil menunggu uang kembalian, mereka berbincang, sekedar memanfaatkan jeda waktu.

Mereka segera pergi setelah menerima uang kembalian.  Tak perlu waktu lama untuk sampai di tujuan. Tanpa pikir panjang mereka buka bungkusan nasi, melahapnya hingga tuntas.

Raffie dan Dion mulai berteman sejak bertemu di kegiatan penerimaan Mahasiswa/i baru. Meski berlainan fakultas, komunikasi antara keduanya berjalan tanpa halangan.

Raffie mahasiswa  fakultas ekonomi, sedangkan Dion mahasiswa fakultas hukum. Raffie memilih Kumpulan Seni Mahasiswa (KSM) sebagai sarana penyaluran hobi dan bakatnya dalam berkesenian. ia  juga tergabung di Badan Eksekutif  Mahasiswa (BEM), tempat dimana ia menuangkan gagasan, ide dan pemikirannya. Sementara Dion memilih bergabung dengan Kumpulan Mahasiswa Pecinta Alam (KMPA).

Tanpa diminta Dion menuangkan air panas ke dalam cangkir berisi campuran gula dan kopi. Satu cangkir ia sodorkan untuk Raffie, cangkir lainnya ia letakkan tak jauh darinya. Obrolan pagi dengan dua cangkir kopi sepertinya memberi kehangatan tersendiri.

“Fie, bulan depan ada acara pelantikan anggota baru KMPA di Jayagiri. Kami akan undang semua organisasi internal kampus untuk hadir di acara pembukaan. Guna persiapan acara, sebagian dari kami akan pergi lebih awal . Aku harap kamu bisa ikut pada saatnya nanti”.

Raffie berpikir sejenak,  mengeluarkan buku dari tas kecil, lalu membaca helai demi helai apa yang tertera disana.

“Kemungkinan aku akan ikut jika tak ada perubahan mendadak”.
Sahut Raffie sambil meraih cangkir kopi.
Dion tampak lega atas jawaban itu. Seduhan kopi ia teguk  perlahan namum pasti. 
“Hari ini aku ada pertemuan. Aku minta, tolong berikan surat ini, atau titipkan saja sama teman sekelasku. Kamu tahu kan, dimana mereka bisa di temui”. 
Sambung Raffie.
Ia letakkan surat diatas meja belajar tak jauh darinya. Suasana hening sejenak. Raffie menarik nafas panjang. Dion menatap penuh tanya.
Raffie mengerti tatapan itu. Sejenak kemudian ia utarakan apa yang ada di benaknya.

“Aku khawatir soal rencana pertunjukan diminggu depan. Pementasan kabaret, festival tari jaipong serta pentas musik. Sementara dana yang terkumpul  belum cukup menutupi semua kebutuhan. Apa yang didapat dari pihak kampus sangat terbatas, begitupun dana dari pemerintah daerah jumlahnya tak seperti yang diharapkan. Proposal kegiatan menumpuk dimeja staf pegawai. Masih beruntung kami dapat secarik kertas jawaban, meski pencairannya harus menunggu beberapa waktu. Hingga kini tiket pertunjukan  yang kami sebarkan  baru terjual setengahnya. Aku berharap beberapa sponsor bisa menepati janjinya untuk memberikan bantuan uang tunai, tidak hanya produk perusahaan seperti yang  kami terima dari sponsor lain sebelumnya. Jika sesuai rencana, akan kami temui pihak sponsor besok siang. Kemungkinan pertemuan hari ini akan membahas persoalan itu. Jadi setelah dipikirkan, aku putuskan untuk hadir di pertemuan.”

Dion mengerti yang Raffie hadapi saat ini. Kopi hangat kembali ia teguk hingga menyisakan ampasnya.
Raffie mengeluarkan dua batang rokok dari tas kecil yang ia beli saat diperjalanan. 
Tak terasa begitu cepat waktu bergulir. Sudah hampir dua jam mereka asyik berbincang. Cahaya matahari mulai masuk melalui jendela kamar yang sengaja dibuka. Dion bergegas mengambil handuk., sementara Raffie meraih gitar akustik yang tergeletak di tempat tidur. Satu persatu senar gitar ia petik diiringi lantunan lagu sekedar mengisi keheningan. Teringat tiba-tiba kampung halaman yang lama tak dikunjunginya. Terbayang wajah kedua orang tua bersimbah keringat demi mencukupi kebutuhan keluarga. Dalam hati ia berjanji tak akan mengecewakan harapan orang tuanya.
Denting gitar terhenti, lamunan terpenggal suara teguran yang datang tiba-tiba. 
Raffie melepas Gitar di dekapannya, seraya berkata.

“Tadi aku tak sempat mandi, jadi sekalian saja aku mandi disini”.

Usai melepas helmet, Raffie cepat beranjak menuju tempat pertemuan, sementara Dion kembali melaju dengan motornya.

Setiba disana ia mulai pencarian guna menyampaikan surat yang Raffie titipkan padanya. Setelah bertemu orang yang Raffie maksudkan dan memberikan surat itu padanya, Dion cepat berlalu.
Di depan ruang tata usaha, ia tak sengaja berpapasan dengan Lena, wanita pemilik mata indah dengan bulu mata lentik, rambut lurus dengan warna agak kecoklatan mirip bule dari negeri seberang, kulit putih bersih dan selalu tampil mempesona.
Lena adalah mahasiswi fakultas hukum, semester dua. Dion mengenal Lena saat penerimaan mahasiswa/i baru enam bulan yang lalu. Orangnya periang dan murah senyum. Tak pilih-pilih teman. Dengan siapapun ia cepat akrab. Namun ia tak segan untuk memperingatkan jika seseorang bersikap kurang ajar.
Pernah sekali waktu secara tiba-tiba seseorang menarik pergelangan tangan Lena dan berkata tak sopan.  Tanpa pikir panjang ia tepiskan tangan itu. Lena ingatkan agar tak mengulanginya lagi . Hampir saja terjadi insiden tak diharapkan. Orang itu tampak marah. Tangan yang melayang akan bersarang di wajah Lena jika saja Raffie yang kebetulan lewat tak menepisnya. Adu mulut pun terjadi, hingga berlanjut ke perkelahian.
Itu hanya kilasan yang kiranya dapat menunjukkan jika Lena bukan wanita seperti perkiraan banyak orang.

Kembali ke Dion. Ia menyapa Lena dengan santai. Lena tak segera menjawab. Seperti tengah fokus dengan hal lainnya. Lena tampak mencari sesuatu, namun tak tahu apa yang dia cari. Dion kembali menyapa dengan suara agak dikeraskan. Lena pun tersadar jika seseorang menyapanya. Tanpa basi-basi ia tanya sesuatu  yang dicarinya tadi. Dion dan Lena sudah sama-sama kenal, hingga tak segan bertegur sapa. Dion sampaikan kalau ia tak bersama orang yang dimaksudkannya, karena tengah menghadiri pertemuan di tempat lain.

“Tadi pagi ia datang ke tempatku dan menitipkan surat”. 

Dion sengaja tak  memberitahu, surat apa dan untuk siapa. Ia ingin tahu bagaimana reaksi Lena.
Sejenak Lena menatap Dion dengan penuh selidik.
Ternyata benar dugaannya, kalau Lena pasti berupaya cari tahu tentang surat itu.

 "Surat apa, dan untuk siapa Di?". Tanya Lena kemudian.

Dion pura-pura tak mendengar.
Dalam hati Lena mengumpat. 

"Apa dia sakit?. Sepertinya tidak mungkin jika dalam kondisi sakit dia berpergian. Atau jangan-jangan, surat itu untuk ....? ".

Lena cepat tepiskan yang terlintas dibenaknya. Ia pikir jika memang dia suka padanya, pasti akan langsung mengatakannya, tanpa pakai surat-suratan segala.
Saat pikiran lain muncul di benaknya, ada kekhawatiran tersirat dihatinya. Ia curiga, jangan-jangan Dion menyembunyikan sesuatu darinya. Tapi kembali ia tepiskan pikiran itu.

"Raffie itu kan bukan siapa-siapanya aku. Kenapa juga aku  mengkhawatirkannya?". Umpat Lena dalam hati.

Lena coba bersikap tenang. Ia tak ingin kekhawatirannya diketahui. Topik pembicaraan pun cepat ia alihkan.
Dion mengerti maksud Lena. Saat dia tanya pun Dion jawab sekenanya. 

Komunikasi Lena dan Raffie terjalin selang sehari setelah peristiwa perkelahian itu. Raffie tengah duduk ditangga dengan beberapa temannya sembari ngobrol sekedar menunggu jam perkuliahan tiba. Salah satu teman yang mendengar kabar berupaya mencari tahu kebenarannya. Raffie ceritakan awal mula kejadian hingga terlibat perkelahian. Ada yang sekedar manggut-manggut, ada pula yang berupaya mengajak buat perhitungan. Raffie berusaha tenang menanggapi ajakan itu. Sempat terlintas kekhawatiran mereka menyimpan dendam. Raffie pikir ia  harus waspada akan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi dikemudian hari.

Waktu perkuliahan akan dimulai beberapa menit kedepan. Pemberi materi belum menampakkan tanda-tanda kedatangannya. Raffie alihkan pandangan mata saat langkah seseorang mendekat ke arahnya. Ia tampak terkejut. Pemilik langkah itu pun tersenyum. Entah mengapa Raffie merasa gugup. Ada getaran tak biasa menjalar di tubuhnya. Namun demikian ia berusaha tetap tenang.

“Boleh saya bicara dengan teman anda ?”. 

Tanya wanita itu ramah.

“Oh boleh silahkan, lama juga nggak apa-apa. Santai aja, kompeni masih jauh kok”. 

jawab salah seorang teman Raffie berkelakar.

Mereka pergi menjauh dari sana. Dalam hati Raffie bertanya, ada apa wanita ini menemuinya.
Sampai di depan koperasi mahasiswa, langkah mereka berhenti.

“Kita bicara di sana saja ya?!”. 

Pintanya singkat sambil menunjuk bangku panjang di sekitaran taman. Ada rasa berkecamuk tak menentu. Untuk menolak ia merasa tak enak. Raffie pun berusaha tetap tenang.
Dengan ramah, Lena memecah kebisuan.

"Maaf jika mengganggu waktumu. Aku ingin mengucapkan terima kasih atas kejadian kemarin ". 

Ungkap Lena menyampaikan maksudnya.
Lega rasanya Raffie mendengar penuturan itu.

“Ini maksudnya dia  mengajak aku kesini”. 

Umpat Raffie dalam hati.

“Aku tak punya kalimat lain untuk mengatakan ini, dan tak tahu bagaimana membalasnya”. 

Lanjut Lena meneruskan.

Hanya dengan tersenyum Raffie menyikapi penuturannya. Sejenak kemudian Lena mengulurkan tangan sambil memperkenalkan dirinya. Raffie jabat tangan itu dan balas perkenalkan dirinya.

Sejak saat itu komuikasi antara keduanya mulai terjalin.   

Selanjutnya >>>



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sampaikan komentar anda dengan bijak