Hari yang
cerah mendorong Raffie pergi menuju kediaman temannya. Letaknya tak jauh dari
tempat dimana ia tinggal. Hanya butuh waktu tempuh kurang lebih
seperempat jam saja untuk sampai disana.
Ia pikir tak apa-apa jika sepagi ini mampir untuk sekedar
menikmati secangkir kopi, seperti juga yang biasa temannya lakukan.
Di ujung jalan Raffie berpapasan dengan teman yang akan ia
tuju. Usai bertegur sapa, mereka bergegas pergi.
Selang beberapa saat, Dion menerima nasi bungkus yang di sodorkan
padanya. Sambil menunggu uang kembalian, mereka berbincang, sekedar
memanfaatkan jeda waktu.
Mereka segera pergi setelah menerima uang kembalian. Tak
perlu waktu lama untuk sampai di tujuan. Tanpa pikir panjang mereka buka
bungkusan nasi, melahapnya hingga tuntas.
Raffie dan
Dion mulai berteman sejak bertemu di kegiatan penerimaan Mahasiswa/i baru.
Meski berlainan fakultas, komunikasi antara keduanya berjalan tanpa halangan.
Raffie mahasiswa fakultas ekonomi, sedangkan Dion mahasiswa
fakultas hukum. Raffie memilih Kumpulan Seni Mahasiswa (KSM) sebagai sarana
penyaluran hobi dan bakatnya dalam berkesenian. ia juga tergabung di
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), tempat dimana ia menuangkan gagasan, ide
dan pemikirannya. Sementara Dion memilih bergabung dengan Kumpulan Mahasiswa
Pecinta Alam (KMPA).
Tanpa diminta
Dion menuangkan air panas ke dalam cangkir berisi campuran gula dan kopi. Satu
cangkir ia sodorkan untuk Raffie, cangkir lainnya ia letakkan tak jauh darinya.
Obrolan pagi dengan dua cangkir kopi sepertinya memberi kehangatan tersendiri.
“Fie, bulan depan ada acara pelantikan anggota baru KMPA di
Jayagiri. Kami akan undang semua organisasi internal kampus untuk hadir di
acara pembukaan. Guna persiapan acara, sebagian dari kami akan pergi lebih awal
. Aku harap kamu bisa ikut pada saatnya nanti”.
Raffie berpikir sejenak, mengeluarkan buku dari tas kecil,
lalu membaca helai demi helai apa yang tertera disana.
“Kemungkinan aku akan ikut jika tak ada perubahan mendadak”.
Sahut Raffie sambil meraih cangkir kopi.
Dion tampak lega atas jawaban itu. Seduhan kopi ia teguk
perlahan namum pasti.
“Hari ini aku ada pertemuan. Aku minta, tolong berikan surat ini,
atau titipkan saja sama teman sekelasku. Kamu tahu kan, dimana mereka bisa di
temui”.
Sambung Raffie.
Ia letakkan surat diatas meja belajar tak jauh darinya. Suasana
hening sejenak. Raffie menarik nafas panjang. Dion menatap penuh tanya.
Raffie mengerti tatapan itu. Sejenak kemudian ia utarakan apa yang
ada di benaknya.
“Aku khawatir soal rencana pertunjukan diminggu depan. Pementasan
kabaret, festival tari jaipong serta pentas musik. Sementara dana yang
terkumpul belum cukup menutupi semua kebutuhan. Apa yang didapat dari
pihak kampus sangat terbatas, begitupun dana dari pemerintah daerah jumlahnya tak
seperti yang diharapkan. Proposal kegiatan menumpuk dimeja staf pegawai. Masih
beruntung kami dapat secarik kertas jawaban, meski pencairannya harus menunggu
beberapa waktu. Hingga kini tiket pertunjukan yang kami
sebarkan baru terjual setengahnya. Aku berharap beberapa sponsor bisa
menepati janjinya untuk memberikan bantuan uang tunai, tidak hanya produk
perusahaan seperti yang kami terima dari sponsor lain
sebelumnya. Jika sesuai rencana, akan kami temui pihak sponsor besok
siang. Kemungkinan pertemuan hari ini akan membahas persoalan itu. Jadi setelah
dipikirkan, aku putuskan untuk hadir di pertemuan.”
Dion mengerti yang Raffie hadapi saat ini. Kopi hangat kembali ia
teguk hingga menyisakan ampasnya.
Raffie mengeluarkan dua batang rokok dari tas kecil yang ia beli
saat diperjalanan.
Tak terasa begitu cepat waktu bergulir. Sudah hampir dua jam
mereka asyik berbincang. Cahaya matahari mulai masuk melalui jendela kamar yang
sengaja dibuka. Dion bergegas mengambil handuk., sementara Raffie meraih gitar
akustik yang tergeletak di tempat tidur. Satu persatu senar gitar ia petik
diiringi lantunan lagu sekedar mengisi keheningan. Teringat tiba-tiba kampung
halaman yang lama tak dikunjunginya. Terbayang wajah kedua orang tua bersimbah
keringat demi mencukupi kebutuhan keluarga. Dalam hati ia berjanji tak akan
mengecewakan harapan orang tuanya.
Denting gitar terhenti, lamunan terpenggal suara teguran yang
datang tiba-tiba.
Raffie melepas Gitar di dekapannya, seraya berkata.
“Tadi aku tak sempat mandi, jadi sekalian saja aku mandi disini”.
Usai melepas helmet, Raffie cepat beranjak menuju tempat
pertemuan, sementara Dion kembali melaju dengan motornya.
Setiba disana
ia mulai pencarian guna menyampaikan surat yang Raffie titipkan padanya.
Setelah bertemu orang yang Raffie maksudkan dan memberikan surat itu padanya,
Dion cepat berlalu.
Di depan ruang tata usaha, ia tak sengaja berpapasan dengan Lena,
wanita pemilik mata indah dengan bulu mata lentik, rambut lurus dengan warna
agak kecoklatan mirip bule dari negeri seberang, kulit putih bersih dan selalu
tampil mempesona.
Lena adalah mahasiswi fakultas hukum, semester dua. Dion mengenal
Lena saat penerimaan mahasiswa/i baru enam bulan yang lalu. Orangnya periang
dan murah senyum. Tak pilih-pilih teman. Dengan siapapun ia cepat akrab. Namun
ia tak segan untuk memperingatkan jika seseorang bersikap kurang ajar.
Pernah sekali waktu secara tiba-tiba seseorang menarik pergelangan
tangan Lena dan berkata tak sopan. Tanpa pikir panjang ia tepiskan tangan
itu. Lena ingatkan agar tak mengulanginya lagi . Hampir saja terjadi insiden
tak diharapkan. Orang itu tampak marah. Tangan yang melayang akan bersarang di
wajah Lena jika saja Raffie yang kebetulan lewat tak menepisnya. Adu mulut pun
terjadi, hingga berlanjut ke perkelahian.
Itu hanya kilasan yang kiranya dapat menunjukkan jika Lena bukan
wanita seperti perkiraan banyak orang.
Kembali ke Dion. Ia menyapa Lena dengan santai. Lena tak segera
menjawab. Seperti tengah fokus dengan hal lainnya. Lena tampak mencari sesuatu,
namun tak tahu apa yang dia cari. Dion kembali menyapa dengan suara agak
dikeraskan. Lena pun tersadar jika seseorang menyapanya. Tanpa basi-basi ia
tanya sesuatu yang dicarinya tadi. Dion dan Lena sudah sama-sama kenal,
hingga tak segan bertegur sapa. Dion sampaikan kalau ia tak bersama orang yang
dimaksudkannya, karena tengah menghadiri pertemuan di tempat lain.
“Tadi pagi ia datang ke tempatku dan menitipkan surat”.
Dion
sengaja tak memberitahu, surat apa dan untuk siapa. Ia ingin tahu
bagaimana reaksi Lena.
Sejenak Lena menatap Dion dengan penuh selidik.
Ternyata benar dugaannya, kalau Lena pasti berupaya cari tahu
tentang surat itu.
"Surat apa, dan untuk siapa Di?". Tanya Lena
kemudian.
Dion pura-pura tak mendengar.
Dalam hati Lena mengumpat.
"Apa dia sakit?. Sepertinya tidak
mungkin jika dalam kondisi sakit dia berpergian. Atau jangan-jangan, surat itu
untuk ....? ".
Lena cepat tepiskan yang terlintas dibenaknya. Ia pikir jika
memang dia suka padanya, pasti akan langsung mengatakannya, tanpa pakai surat-suratan
segala.
Saat pikiran lain muncul di benaknya, ada kekhawatiran tersirat
dihatinya. Ia curiga, jangan-jangan Dion menyembunyikan sesuatu darinya. Tapi
kembali ia tepiskan pikiran itu.
"Raffie itu kan bukan siapa-siapanya aku. Kenapa juga
aku mengkhawatirkannya?". Umpat Lena dalam hati.
Lena coba bersikap tenang. Ia tak ingin kekhawatirannya
diketahui. Topik pembicaraan pun cepat ia alihkan.
Dion mengerti maksud Lena. Saat dia tanya pun Dion jawab
sekenanya.
Komunikasi
Lena dan Raffie terjalin selang sehari setelah peristiwa perkelahian itu.
Raffie tengah duduk ditangga dengan beberapa temannya sembari ngobrol sekedar
menunggu jam perkuliahan tiba. Salah satu teman yang mendengar kabar berupaya
mencari tahu kebenarannya. Raffie ceritakan awal mula kejadian hingga terlibat
perkelahian. Ada yang sekedar manggut-manggut, ada pula yang berupaya mengajak
buat perhitungan. Raffie berusaha tenang menanggapi ajakan itu. Sempat
terlintas kekhawatiran mereka menyimpan dendam. Raffie pikir ia harus waspada
akan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi dikemudian hari.
Waktu perkuliahan akan dimulai beberapa menit kedepan. Pemberi
materi belum menampakkan tanda-tanda kedatangannya. Raffie alihkan pandangan
mata saat langkah seseorang mendekat ke arahnya. Ia tampak terkejut. Pemilik
langkah itu pun tersenyum. Entah mengapa Raffie merasa gugup. Ada getaran tak
biasa menjalar di tubuhnya. Namun demikian ia berusaha tetap tenang.
“Boleh saya bicara dengan teman anda ?”.
Tanya wanita itu ramah.
“Oh boleh silahkan, lama juga nggak apa-apa. Santai aja, kompeni
masih jauh kok”.
jawab salah seorang teman Raffie berkelakar.
Mereka pergi menjauh dari sana. Dalam hati Raffie bertanya, ada
apa wanita ini menemuinya.
Sampai di depan koperasi mahasiswa, langkah mereka berhenti.
“Kita bicara di sana saja ya?!”.
Pintanya singkat sambil menunjuk
bangku panjang di sekitaran taman. Ada rasa berkecamuk tak menentu. Untuk
menolak ia merasa tak enak. Raffie pun berusaha tetap tenang.
Dengan ramah, Lena memecah kebisuan.
"Maaf jika mengganggu waktumu. Aku ingin mengucapkan terima
kasih atas kejadian kemarin ".
Ungkap Lena menyampaikan maksudnya.
Lega rasanya Raffie mendengar penuturan itu.
“Ini maksudnya dia mengajak aku kesini”.
Umpat Raffie dalam
hati.
“Aku tak punya kalimat lain untuk mengatakan ini, dan tak tahu
bagaimana membalasnya”.
Lanjut Lena meneruskan.
Hanya dengan tersenyum Raffie menyikapi penuturannya. Sejenak
kemudian Lena mengulurkan tangan sambil memperkenalkan dirinya. Raffie
jabat tangan itu dan balas perkenalkan dirinya.
Sejak saat itu komuikasi antara keduanya mulai
terjalin.
Selanjutnya >>>
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Sampaikan komentar anda dengan bijak