Gak Ngerti
Dering telepon membuatnya tersadar dari lamunan. Raffie beranjak perlahan mengambil ponsel yang tergeletak di meja. Nama panggilan masuk yang tertera di layar handphone membuat ia berpikir. Jawab, atau biarkan saja sampai tak lagi berdering. Timbang menimbang berakhir diujung keputusan. Tombol terima ia tekan dan mulai bicara. Kalimat pertanyaan pertama yang ia dengar langsung dijawab dengan singkat. Dion lanjut pertanyakan kabar dan sedang dimana ia berada. Raffie sengaja tak memberi tahu, apa yang telah dialaminya beberapa hari kebelakang.
“Jangan kemana-mana dulu Fie, aku berangkat ke tempatmu sekarang”.
Dion menutup telepon setelah mendapat jawaban. Raffie cepat berganti pakaian. Sweater hitam ia pilih untuk menutupi luka ditubuhnya. Raffie sempat kebingungan saat bercermin. Luka lebam di bawah kelopak mata masih jelas terlihat nyata.
“Harus berkelit dengan jawaban apa jika Dion mempertanyakan. Ia tak akan percaya dengan alasan karena terjatuh, tertimpa batang kayu, atau apa saja. Dion akan tahu jawaban yang sebenarnya”.Seperti yang sudah di duga, begitu tahu kondisi Raffie seperti apa, Dion lantas mempersoalkannya. Kenapa, siapa, dimana dan banyak lagi pertanyaan lainnya. Raffie tak dapat lagi mengelak. Tak guna juga ia berbohong untuk menutupi keadaan yang sebenarnya.
“Jangan mundur Fie !. Kita maju terus, tetap bergerak dengan cara kita sendiri. Aku setuju sementara ini kita tak perlu melibatkan aparat berwenang untuk menangani persoalan ini”.
Raffie tertunduk menatap lantai kamar sambil sesekali mengusap
bagian-bagian tubuh yang masih menyisakan rasa nyeri. Sejenak terdiam tanpa
kata. Menarik nafas panjang lalu dihembuskan perlahan.
Dion memberikan ponsel yang tergeletak dimeja saat melihat notifikasi chat dilayar handphone Raffie.
Lena terdiam, menimbang ulang untuk melakukan panggilan. Saat handphone berdering, Lena bergerak cepat menerima panggilan tanpa memastikan terlebih dahulu, siapa yang menghubunginya. Lena tersipu malu menyadari kekeliruan yang ia lakukan. Ia pikir itu Raffie, ternyata bukan. Si penelepon memberi kabar serta alasan jika Raffie sepertinya belum bisa memenuhi permintaan. Dia sampaikan kalau dirinya menghubungi Lena tanpa sepengetahuan Raffie, dan saat ini masih berada disana bersamanya. Setelah menerima saran, Lena minta Dion mengirimkan lokasi, karena memang ia belum pernah berkunjung ke tempat Raffie sebelumnya.
Dion pamit
keluar sebentar meninggalkan Raffie sendirian di kamar dengan alasan akan
membeli sesuatu. Ia perkirakan dan hitung waktu tempuh perjalanan Lena untuk
sampai tujuan jika di perjalanan tak terhambat sesuatu. Selepas membeli
beberapa makanan ringan, Dion berdiri menunggu di trotoar jalan tak jauh dari
tempat dimana Raffie tinggal. Ia berencana memberi temannya kejutan dengan
mengabaikan pertimbangan, apakah terima atau tidak Rafffie dengan
rencananya. Dion menoleh kearah dimana pengemudi Grab menghentikan sepeda
motornya beberapa meter dari tempat ia berdiri. Lena cepat melangkah
setelah berikan sejumlah uang untuk membayar tarif atas jasa yang telah ia
terima. Usai bertegur sapa dan menyimak apa yang Dion sampaikan padanya, mereka
pun lekas pergi.
Raffie sempat terperanjat saat pandang matanya tertuju ke arah jalan. Hampir tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Raffie jadi salah tingkah tatkala Lena datang mendekat. Tanpa menujukkan ekspresi mencurigakan, Dion mengikutinya dari belakang. Sebelum Lena banyak berucap kata, Dion menyela dengan memberi Raffie penjelasan, kalau ia kebetulan bertemu Lena saat hendak membeli makanan. Raffie diam tak menimpali apa yang Dion sampaikan, sementara dalam hatinya setumpuk kata ia tumpahkan.
Sepeninggal Dion, ingin secepatnya Lena mengungkap pertanyaan yang tersimpan. Tanya tentang luka lebam Raffie disekitar kelopak mata, luka goresan yang tak sengaja ia lihat ketika sweater bagian lengan tertarik keatas, dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lainnya. Tapi keinginan itu tertahan saat Raffie tawarkan diri membuatkan Lena minuman. Lena menolak dengan halus.
“Aku tak bisa berpikir untuk membuat kebohongan cerita saat akan membalas pesan chat dari kamu Len. Tapi.., untuk berkata jujur pun banyak hal yang aku pertimbangkan. Mungkin setelah tahu kondisiku seperti sekarang ini, kamu bisa mengerti dan memaklumi”.
Raffie melayangkan pandangan jauh kedepan sambil sesekali menunduk saat ia bicara. Lena menyimak setiap perkataan dengan tatapan mata menyiratkan rasa dihatinya. Persoalan pesan chat tak ia prioritaskan. Lena lebih tertarik untuk mencari tahu tentang hal yang telah membuat keadaan Raffie jadi seperti yang terlihat saat ini. Tanpa menunggu lebih lama lagi ia sampaikan keingintahuannya itu pada Raffie.
Raffie menarik nafas panjang terlebih dahulu sebelum ia bercerita tentang apa yang ingin Lena ketahui darinya.
Wangi harum bunga semerbak menebar aroma. Cahaya bulan merah merona memantul indah dihelai daun basah yang tersiram hujan menjelang malam tiba. Lena masih disana, duduk manis diteras kamar dengan obrolan hangatnya. Raffie tersenyum ramah sambil menganggukkan kepala ketika pemilik tempat yang ia tinggali berjalan melintas dihadapan mereka. Lena berpura-pura mengetikkan sesuatu dilayar handphonenya, seolah memberi pertanda. Raffie beranjak dari kursi kayu begitu teringat tentang kesepakatan dengan pemilik tempat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Sampaikan komentar anda dengan bijak