Translate

Jejak Kita - Bagian 5

Gak Ngerti

Dering telepon membuatnya tersadar dari lamunan. Raffie beranjak perlahan mengambil ponsel yang tergeletak di meja. Nama panggilan masuk yang tertera di layar handphone membuat ia berpikir. Jawab, atau biarkan saja sampai tak lagi berdering. Timbang menimbang berakhir diujung keputusan. Tombol terima ia tekan dan mulai bicara. Kalimat pertanyaan  pertama yang ia dengar langsung dijawab dengan singkat. Dion lanjut pertanyakan kabar dan sedang dimana ia berada. Raffie sengaja tak memberi tahu, apa yang telah dialaminya beberapa hari kebelakang.  

“Jangan kemana-mana dulu Fie, aku berangkat ke tempatmu sekarang”.  

Dion menutup telepon setelah mendapat jawaban. Raffie cepat berganti pakaian. Sweater hitam ia pilih untuk menutupi luka ditubuhnya. Raffie sempat kebingungan saat bercermin. Luka lebam di bawah kelopak mata masih jelas terlihat nyata.

“Harus berkelit dengan jawaban apa jika Dion mempertanyakan. Ia tak akan percaya dengan alasan karena terjatuh, tertimpa batang kayu, atau apa saja. Dion akan tahu jawaban yang sebenarnya”.  

Sejenak Raffie terdiam. Kembali ia pandangi dirinya didepan cermin. Ada amarah tersimpan dihati. Ada setumpuk pertanyaan bersarang dibenak pikirannya. Ia ingat-ingat kembali apa yang telah terjadi. Ia ingat-ingat lagi dan lagi. Salah apa yang sudah ia lakukan sampai mendapat perlakuan seperti ini.
Tiba-tiba ia teringat kejadian beberapa waktu lalu, ketika membantu selamatkan Lena dari gangguan seseorang. Tapi Raffie tak yakin,  jika pelaku pengeroyokan itu orang yang pernah berselisih dengannya, atau teman-temannya. Tak satu pun yang ia kenali dari mereka. Raffie terus bertanya dan bertanya dalam hatinya. Siapa mereka sebenarnya.
Begitu fokusnya ia mengingat-ingat apa saja yang tersimpan di memorinya, hingga tak menyadari kedatangan seseorang disana. Raffie tersentak saat mendengar pintu kamar diketuk dengan memanggil namanya. Ia kenal betul siapa orang diluar sana. Tak ada waktu lagi bagi Raffie untuk berpikir selain membukakan pintu untuknya.

Seperti yang sudah di duga, begitu tahu kondisi Raffie seperti apa, Dion lantas mempersoalkannya. Kenapa, siapa, dimana dan banyak lagi pertanyaan lainnya. Raffie tak dapat lagi mengelak. Tak guna juga ia berbohong untuk menutupi keadaan yang sebenarnya.

Diawali tarikan nafas panjang, ia paparkan kronologis kejadian dari A sampai Z semampu yang dapat ia sampaikan. Dion menyimak tanpa berusaha memotong setiap kalimat yang Raffie tuturkan. Gemeretak gigi serta mimik mukanya menunjukkan ada kekesalan dan amarah yang tertahan. Ia tak rela, juga tak terima melihat kondisi temannya seperti ini. Perlakuan tidak menyenangkan, bahkan menyakitkan yang Raffie terima tak bisa dibiarkan, dan harus ada tindakan balasan. Dion sarankan agar Raffie mencari tahu siapa pelaku pengeroroyokan. Jika mereka orang-orang suruhan, harus tahu juga siapa otak dibalik peristiwa itu. Penuh semangat Dion nyatakan dukungan dan kesediaannya untuk bersama-sama menelusuri serta mencarikan informasi.  

“Jangan mundur Fie !. Kita maju terus, tetap bergerak dengan cara kita sendiri. Aku setuju sementara ini kita tak perlu melibatkan aparat berwenang untuk menangani persoalan ini”.   

Raffie tertunduk menatap lantai kamar sambil sesekali mengusap bagian-bagian tubuh yang masih menyisakan rasa nyeri. Sejenak terdiam tanpa kata. Menarik nafas panjang lalu dihembuskan perlahan.

Dion memberikan ponsel yang tergeletak dimeja saat melihat notifikasi chat dilayar handphone Raffie.  

“Dari Lena Fie”.

Jelasnya singkat.  

Raffie membuka chat, lalu membaca susunan kalimat yang tertera. Meski sekejap, ada setitik bahagia ia rasakan, tapi sedihpun bersamaan datang, karena tak bisa penuhi permintaan Lena saat ini. Raffie tak menunda waktu untuk memberi tahu Dion isi pesan yang baru saja ia terima, lalu kemudian menyampaikan ketidakmungkinannya untuk Lena bertemu dengannya. Sementara disana penuh harap Lena menanti jawaban. Ia pastikan kembali jika pesannya telah sampai tujuan. Dalam hati ia bertanya pada dirinya sendiri apa yang ia rasakan.

Lena terdiam, menimbang ulang untuk melakukan panggilan. Saat handphone berdering, Lena bergerak cepat menerima panggilan tanpa memastikan terlebih dahulu, siapa yang menghubunginya. Lena tersipu malu menyadari kekeliruan yang ia lakukan. Ia pikir itu Raffie, ternyata bukan. Si penelepon memberi kabar serta alasan jika Raffie sepertinya belum bisa memenuhi permintaan. Dia sampaikan kalau  dirinya menghubungi Lena tanpa sepengetahuan Raffie, dan saat ini masih berada disana bersamanya. Setelah menerima saran, Lena minta Dion mengirimkan lokasi, karena memang ia belum pernah berkunjung ke tempat Raffie sebelumnya.

Tak berapa lama Lena menerima kiriman lokasi yang ia minta. Tanpa menunggu  dan berpikir panjang lagi ia bergegas pergi.

Dion pamit keluar sebentar meninggalkan Raffie sendirian di kamar dengan alasan akan membeli sesuatu. Ia perkirakan dan hitung waktu tempuh perjalanan Lena untuk sampai tujuan jika di perjalanan tak terhambat sesuatu. Selepas membeli beberapa makanan ringan, Dion berdiri menunggu di trotoar jalan tak jauh dari tempat dimana Raffie tinggal. Ia berencana memberi temannya kejutan dengan mengabaikan pertimbangan, apakah terima atau tidak Rafffie dengan rencananya. Dion menoleh kearah dimana pengemudi Grab menghentikan sepeda motornya beberapa meter dari tempat ia berdiri. Lena cepat melangkah setelah berikan sejumlah uang untuk membayar tarif atas jasa yang telah ia terima. Usai bertegur sapa dan menyimak apa yang Dion sampaikan padanya, mereka pun lekas pergi.

Raffie sempat terperanjat saat pandang matanya tertuju ke arah jalan. Hampir tak percaya dengan apa yang ia lihat. 

“Apa aku sedang bermimpi?”.

Tanya Raffie pada dirinya sendiri sambil memastikan, apa yang ia lihat adalah nyata adanya. 

 “Ini pasti kerjaannya Dion”.

Umpat Raffie dalam hati.  

Raffie jadi salah tingkah tatkala Lena datang mendekat. Tanpa menujukkan ekspresi mencurigakan, Dion mengikutinya dari belakang. Sebelum Lena banyak berucap kata, Dion menyela dengan memberi Raffie penjelasan, kalau ia kebetulan bertemu Lena saat hendak membeli makanan. Raffie diam tak menimpali apa yang Dion sampaikan, sementara dalam hatinya setumpuk kata ia tumpahkan.  

“Tidak keberatan Fie aku datang kesini?”.
Tanya Lena.

 Raffie jawab dengan sedikit kalimat disertai isyarat.

 “Maaf kalau aku tak mengabarimu sebelumnya”.

Lanjut Lena menjelaskan kemudian. 

Raffie sampaikan rasa tak keberatannya dengan singkat bicara, lalu  mempersilahkan Lena untuk memilih tempat yang nyaman baginya.
Dion berpura-pura terkejut saat melirik jam tangan di pergelangan tangannya, kemudian beranjak mengambil jaket yang ia gantungkan dibalik pintu.   Setelah pamitan pergi dengan alasan janji bertemu teman kelasnya, Dion pergi secepatnya.

Sepeninggal Dion, ingin secepatnya Lena mengungkap pertanyaan yang tersimpan. Tanya tentang luka lebam Raffie disekitar kelopak mata, luka goresan yang tak sengaja ia lihat ketika sweater bagian lengan tertarik keatas, dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lainnya. Tapi keinginan itu tertahan saat  Raffie tawarkan diri membuatkan Lena minuman. Lena menolak dengan halus.  


“Nggak perlu repot-repot Fie!”.

Pinta Lena pada Raffie.  

Raffie memaksa dengan kalimat sanggahan, kalau ia tak merasa keberatan untuk sekedar membuatkan minuman.
Hampir saja Lena tak bisa membendung keingintahuannya saat ia perhatikan langkah kaki  Raffie yang terlihat kaku.
Raffie kembali ke teras depan dengan dua gelas air teh dikedua tangan. Ia letakkan dimeja dan mempersilahkan Lena untuk mencicipi minumannya.
Sejenak Raffie terdiam, kemudian memulai obrolan. Pertama ia sampaikan permohonan maaf serta alasan, mengapa ia tak segera membalas pesan chat yang ia terima.  

“Aku tak bisa berpikir untuk membuat kebohongan cerita saat akan membalas pesan chat dari kamu Len. Tapi.., untuk berkata jujur pun banyak hal yang aku pertimbangkan. Mungkin setelah tahu kondisiku seperti sekarang ini, kamu bisa mengerti dan memaklumi”.  

Raffie melayangkan pandangan jauh kedepan sambil sesekali menunduk saat ia bicara. Lena menyimak setiap perkataan dengan tatapan mata menyiratkan rasa dihatinya. Persoalan pesan chat tak ia prioritaskan. Lena lebih tertarik untuk mencari tahu tentang hal yang telah membuat keadaan Raffie jadi seperti yang terlihat saat ini. Tanpa menunggu lebih lama lagi ia sampaikan keingintahuannya itu pada Raffie.  

“Aku akan menjadi pendengar setiamu Fie”.

Ucap Lena penuh harap. 

Raffie menarik nafas panjang terlebih dahulu sebelum ia bercerita tentang apa yang ingin Lena ketahui darinya.

Wangi harum bunga semerbak menebar aroma. Cahaya bulan merah merona memantul indah dihelai daun basah yang tersiram hujan menjelang malam tiba. Lena masih disana, duduk manis diteras kamar dengan obrolan hangatnya. Raffie tersenyum ramah sambil menganggukkan kepala ketika pemilik tempat yang ia tinggali berjalan melintas dihadapan mereka. Lena berpura-pura mengetikkan sesuatu dilayar handphonenya, seolah memberi pertanda. Raffie beranjak dari kursi kayu begitu teringat tentang kesepakatan dengan pemilik tempat.  

“Aku antar kamu pulang ya. Aku khawatir terjadi sesuatu denganmu jika pergi sendirian malam-malam”. 

Pinta Raffie disertai alasan.  
       
Raffie berhenti di depan pagar halaman rumah dimana Lena tinggal. Seorang pria yang tengah duduk menunggu di teras rumah bangkit berdiri, memanggil Lena dan menghampiri. Lena menjadi salah tingkah. Ia bingung harus berbuat apa. Tak satu kata pun terucap darinya. Raffie yang telah bersepakat untuk singgah mengurungkan niatnya. Ia merogoh saku celana dan memberikan lembaran uang kertas pada Lena, setelah menggantungkan helmet di stang motornya. Ia bertingkah seperti layaknya pengemudi Grab. Raffie mengangguk hormat, kemudian bergegas pergi.
Lena masih berdiri dengan wajah kebingungan, tak mengerti maksud Raffie berlaku seperti itu.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sampaikan komentar anda dengan bijak