Translate

Jejak Kita - Bagian 10

 

Arti Sahabat

Udara sore ini cukup dingin bagi para pengendara roda dua. Namun mendung yang datang tak menghalangi mereka untuk terus melanjutkan perjalanan. Raffie membuka jaket yang ia kenakan, lalu meminta Lena untuk memakainya. Sweater merah ia keluarkan dari tas gendong, kemudian ia pakai setelah sebelumnya memasangkan rompi motor terlebih dahulu.

Lalu lintas di jalan raya tak begitu padat, sehingga ia lebih leluasa berkendara dengan kecepatan diatas 30 km/jam. Laju kendaraan melambat ketika lampu lalu litas di perempatan jalan menyala kuning, kemudian berhenti saat detik-detik berikutnya menyala merah. Raffie menyempatkan diri menoleh kebelakang sambil bertanya, untuk memastikan jika Lena tidak mengantuk atau mugkin tertidur. Lena pun menyahut untuk meyakinkan Raffie bahwa ia baik-baik saja dan tetap terjaga. Saat lampu lalu lintas menyala hijau, satu persatu kendaraan kembali melaju dengan kecepatannya masing-masing.

Raffie menepi saat baru saja melewati perbatasan kota. Curah hujan yang semakin deras memaksanya untuk mencari tempat berlindung. Dua gelas kopi ia pesan setelah memarkirkan motornya disamping warung nasi sederhana yang berjejer disepanjang jalan. Ia menawarkan Lena untuk memesan makanan, sambil menunggu hujan reda. Namun Lena menolak halus tawaran disertai alasan. Ia hanya butuh segelas kopi untuk sekedar menghangatkan badan dan menjaga agar rasa kantuk tak mengganggunya di perjalanan nanti.

Setengah jam lewat sudah, dan hujan pun perlahan reda hingga kemudian berhenti tercurah. Ini saat yang tepat bagi mereka untuk melanjutkan perjalanan yang tertunda. Setelah membayar dua gelas kopi yang mereka habiskan, Raffie mengajak Lena bersiap-siap untuk pergi. Usai memastikan tidak ada sesuatu yang tertinggal, mereka berpamitan pada pemilik warung nasi,  lalu kembali berkendara di jalan raya.

Hujan deras yang turun menyisakan sampah berserakan di jalanan yang mereka lalui. Raffie harus lebih berhati-hati mengendarai motornya. Selain karena sampah yang bertebaran, ia juga harus waspada dengan kerikil-kerikil yang terseret arus air hingga tercecer dijalanan. Masalah klasik yang masih menjadi persoalan bagi pemerintah setempat untuk lebih meningkatkan kesadaran warga masyaraktnya agar tidak membuang sampah di sembarang tempat. Demi keselamatan mereka, Raffie mengurangi kecepatan laju kendaraan roda duanya dan berusaha tetap fokus memperhatikan jalan di depan. Setelah melintasi jembatan, Raffie menambah kecepatan laju motornya. Karena merasa tak nyaman, Lena coba mengingatkan agar Raffie tidak terburu-buru untuk cepat sampai ditujuan. Dan apa yang Lena khawatirkan pun hampir saja terjadi. Raffie berupaya mempertahankan keseimbangan setelah roda motornya melintasi genangan air. Ia tak mengira jika dalam genangan air terdapat lubang cukup dalam. Lena menjerit dengan kedua tangan memeluk erat tubuh Raffie. Sebelah kakinya terlepas dari tempat pijakan. Beruntung tak ada kendaraan lain, baik dibelakangnya maupun kendaraan yang melaju dari arah berlawanan. Satu hal lagi yang menjadi masalah bagi keselamatan pengguna jalan. Entah apa yang menjadi kendala, sehingga terkesan tak ada upaya dari pemerintah untuk secepatnya melakukan perbaikan. Sepertinya program pemeliharaan jalan pun tak terealisasi sesuai jadwal yang telah direncanakan. Jika saja terus dibiarkan, bukan hal yang tidak mungkin akan menambah daftar panjang korban kecelakaan lalu lintas yang salah satunya akibat dari rusaknya jalan.

Guna menenangkan diri, Raffie perlahan menepi, kemudian berhenti sejenak untuk memastikan kalau Lena baik-baik saja, sekalian memeriksa kondisi motornya. Setelah yakin tak terdapat kendala apapun, mereka kembali melanjutkan perjalanan.

Senja menebar warna di upuk barat. Cahaya jingga berhias awan putih dan kelabu yang bertebaran dilangit tinggi memberi keindahan tersendiri bagi setiap yang memandangnya. Padi yang mulai menguning memberi harapan kebagahagiaan pada setiap mereka yang telah menabur benih di hamparan sawah luas terbentang. Raffie menepi untuk berhenti. Sejenak menikmati buah anggur yang mereka beli dari penjual buah-buahan di pinggiran jalan. Sebelum melanjutkan perjalanan, mereka sepakat membeli kembali buah anggur dan  lainnya untuk diberikan sebagai buah tangan dari mereka pada orang yang akan dikunjunginya. Tak ingin menunggu malam tiba, Raffie bergegas mengajak Lena untuk bersiap pergi.

Menjelang Isya mereka tiba ditujuan. Raffie mematikan mesin motornya didepan rumah orang yang akan dikunjunginya. Belum sempat ia menekan tombol bel yang menempel di tembok pagar halaman, seseorang keluar dari pintu rumah, berjalan cepat menghampiri mereka yang tengah berdiri menanti. Raffie dan Lena mengangguk hormat disertai senyum ramah ketika ia datang mendekat. Usai bersalaman dan bertegur sapa, Lena berjalan perlahan mengikuti tuan rumah seperti yang diminta. Raffie menuntun motornya memasuki halaman, kemudian memarkirkannya disana. Setelah menutup pagar, ia bergegas menyusul Lena kedalam. 

Arief meringis kesakitan ketika berusaha menurunkan sebelah kakinya dari atas meja. Raffie cepat membantu, sementara Lena duduk terdiam memperhatikan mereka. Ini hari keempat bagi Arief beristirahat total guna memulihkan kondisinya setelah mengalami kecelakaan. Sebelah kakinya masih terbungus kain perban, dan beberapa luka kecil di bagian tangannya sebagian sudah tampak mengering dan membaik. Sebisa mungkin Raffie berupaya menghibur Arief dengan cerita-cerita lucu yang pernah mereka lalui bersama. Sebagai aktivis mahasiswa, Arief dikenal teman-temannya sebagai orang pergerakan yang kerap menyuarakan berbagai aspirasi, baik didalam maupun diluar kampus. Arief juga merupakan salah satu jurnalis tabloid kampus yang dirintisnya bersama teman-teman seperjuangannya. Meski berada dijajaran pimpinan redaksi, Arief tetap berperan aktif mencari berita untuk tabloidnya. Belakangan kemudian, ia mengajak Raffie  bergabung dan memintanya menjadi editor di sana, guna mengisi kekosongan tempat yang ditinggalkan editor sebelumnya. Selain sebagai kakak tingkat, Arief sudah menganggap Raffie seperti saudaranya sendiri.

Angin malam menyelinap masuk lewat pintu yang setengah terbuka. Ibu Arief melangkah perlahan, menutup pintu rumah rapat-rapat lalu menguncinya. Sebelum kembali ke kamar, ia menawarkan mereka untuk dibuatkan seduhan minuman. Raffie mengangguk, berbasa-basi menolak dengan alasan tak ingin merepotkan. Sementara itu Lena benar-benar menolaknya untuk dibuatkan minuman. Rasa kantuk tak dapat lagi ia tahan. Beberapa kali ia harus mentup mulutnya karena menguap. Melihat demikian, Ibu Arief tersenyum, kemudian meminta mereka untuk bermalam saja. Lena diminta untuk beristirahat di kamar Riani, adiknya Arief yang kebetulan tidak pulang akhir pekan ini karena kesibukannya mengerjakan tugas kuliah. Lena mengangguk malu. Sejenak menoleh kearah Raffie. Tanpa basa-basi lagi Arief meminta Lena untuk mengikuti permintaan ibunya. Meski segan dan malu, akhirnya Lena pun perlahan beranjak dari ruang tamu menuju kamar.

Harum wangi seduhan kopi dimeja tamu membuat Raffie tak tahan untuk mencicipi. Arief tersenyum melihat Raffie begitu menikmati secangkir kopi buatan ibunya. Sejenak kemudian obrolan merekapun berlanjut kembali. Raffie menarik nafas perlahan saat Arief memintanya untuk menceritakan peristiwa yang pernah menimpa Raffie beberapa waktu lalu (Baca : Jejak Kita - Bagian 4). Sebenarnya Raffie telah memutuskan untuk tidak mengungkitnya kembali, dan menganggap persoalan itu selesai. Tapi atas desakan Arief, Raffie pun akhirnya membuka kembali apa yang telah disimpannya dalam-dalam. Hingga kini Raffie tak tahu pasti alasan mereka melakukan perbuatan tak terpuji terhadapnya. Namun berdasarkan informasi yang ia dapatkan dari berbagai sumber, peristiwa tersebut ada keterkaitan atas kedekatannya dengan Lena saat itu.  Seseorang merasa tak suka melihat ia dekat dengan Lena. Mungkin ia menaruh hati padanya, namun upaya untuk menarik simpati Lena merasa terhalangi olehnya. Jadi Raffie pikir, itu persoalan biasa. Hanya saja Raffie sangat menyayangkan, kenapa jika hanya karena persoalan itu harus terjadi insiden demikian. Namun Arief memiliki pandangan berbeda. Ia pikir bukan karena persoalan kedekatan Raffie dengan Lena, tapi ada hal lain yang mendasari perbuatan mereka terhadapnya. Ia tahu orang-orang yang Raffie ceritakan padanya. Menurut pandangan Arief, peristiwa itu erat hubungannya dengan aktivitas Raffie di BEM, juga aktivitas organisasinya diluar kampus. Namun Raffie bersikeras mempertahankan argumentasinya, jika peristiwa itu hanya karena kesalahfahaman belaka, meski sebenarnya hati kecilnya cenderung sepakat dengan apa yang Arief sampaikan. Raffie hanya berusaha untuk melupakan apa yang telah menimpanya. Sesungguhnya Ia pun tak begitu yakin jika Lena penyebab semuanya. Ia percaya, Lena hanya sebagai pengalih perhatian saja untuk mereka jadikan alasan. Ternyata Arief tak mau menyerah kalah dan berpihak pada argumentasi Raffie. Ia berusaha terus mendesak agar Raffie jujur mengakui, bahwa apa yang Raffie sampaikan padanya hanya karena tak ingin mempersoalkan hal itu lagi. Dan pada akhirnya Raffie harus jujur mengikuti kata hatinya. Sambil menunduk ia mengakui, apa yang telah Arief sampaikan padanya dapat ia mengerti dan pahami. Arief pun tersenyum sambil menepuk lengan Raffie. Ia berharap Raffie tidak lantas berdiam diri atas perlakuan mereka terhadapnya. Ia pun meminta agar Raffie membuka kembali peristiwa itu. Menurutnya, Raffie bisa memanfaatkan tabloid kampus sebagai media untuk mengungkap persoalan yang sebenarnya dibalik insiden itu. Ia bisa menulis artikel atau cerita apapun disana. Atas saran Arief, Raffie mengangguk setuju dan berjanji untuk secepat mungkin menulis artikel atau cerita atau apapun di tabloid kampusnya. Arief pun tertawa kecil sambil meninju Raffie, kemudian dengan bahasa tubuhnya ia memberi dorongan semangat pada sahabat karibnya ini.

Tak terasa malam beranjak larut. Senandung binatang malam senyap tak terdengar, seakan terbius oleh rintik hujan yang perlahan turun semakin deras. Arief beberapa kali menguap, begitupun halnya dengan Raffie. Sementara itu, ibu Arief dan Lena sudah terlelap dengan mimpinya masing-masing. Arief meminta Raffie untuk memapahnya menuju kamar. Tak lama kemudian mereka pun terbaring berupaya memejamkan mata.

Separuh malam yang mereka lalui menyimpan kisah untuk saling berbagi cerita. Begitupun angan dan harapan Lena yang terbawa mimpi, membuahkan senyum manis ketika kedua matanya  menatap mentari pagi diiringi kicau burung yang hinggap di ranting pohon. Sisa embun pagi menggelayut diujung dedaunan, memantulkan cahaya berkilau bagai intan permata dibelahan garis katulistiwa.

“Bagaimana tidurmu semalam nak?”.

Tanya ibu Arief tiba-tiba, saat mendapati Lena tengah berdiri menatap keluar jendela.

Lena cepat menoleh kearah suara. 

“Nyenyak sekali tante”.

Jawab Lena singkat sambil tersenyum malu. 

“Kamu pakai saja ini kalua mau mandi!”.

“Tante sudah siapkan sarapan untuk kalian”.

Lanjut ibu Arief sembari memberikan handuk pada Lena. 

Lena mengangguk dengan memberi sedikit jawaban, kemudian bergegas pergi menuju kamar mandi setelah ditunjukkan arah dan tempatnya.

Sementara itu dihalaman rumah, Raffie masih berkutat dengan motornya. Andai saja Arief dan juga ibunya tak menyarankan Raffie utnuk mencuci motor dan memanaskan mesinnya, mungkin ia akan membiarkannya terparkir dengan kondisi seadanya. Tak lama kemudian ibu Arief pun memanggilnya untuk sarapan bersama, setelah sebelumnya meminta Raffie untuk pergi mandi terlebih dahulu.   

Matahari semakin meninggi. Awan putih bertebaran dilangit. Gumpalannya sesekali  menahan terik dan memberi keteduhan bagi penghuni alam. Raffie bersiap pergi setelah berpamitan. Arief Kembali mengingatkan tentang apa yang telah ia sampaikan semalam.

“Hidup harus tetap berjalan, dan perjuangan kita masih panjang”.

Ucap Arief memberi semangat.

Raffie mengepalkan sebelah tangannya, kemudian mendorong sekuat tenaga kearah depan.

Mesin motor ia nyalakan, sementara itu Lena membukakan pagar halaman. Dan lambaian tangan pun  menjadi penutup perjumpaan.    

Nantikan kelanjutan kisahnya di Arena Blog


Cerita lainnya klik disini>>>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sampaikan komentar anda dengan bijak