Arti Sahabat
Udara sore ini cukup dingin bagi para pengendara roda
dua. Namun mendung yang datang tak menghalangi mereka untuk terus melanjutkan
perjalanan. Raffie membuka jaket yang ia kenakan, lalu meminta Lena untuk memakainya. Sweater merah ia keluarkan dari tas gendong, kemudian ia pakai
setelah sebelumnya memasangkan rompi motor terlebih dahulu.
Lalu lintas di jalan raya tak begitu padat, sehingga ia lebih leluasa berkendara dengan kecepatan diatas 30 km/jam. Laju kendaraan melambat ketika lampu lalu litas di perempatan jalan menyala kuning, kemudian berhenti saat detik-detik berikutnya menyala merah. Raffie menyempatkan diri menoleh kebelakang sambil bertanya, untuk memastikan jika Lena tidak mengantuk atau mugkin tertidur. Lena pun menyahut untuk meyakinkan Raffie bahwa ia baik-baik saja dan tetap terjaga. Saat lampu lalu lintas menyala hijau, satu persatu kendaraan kembali melaju dengan kecepatannya masing-masing.
Raffie menepi saat baru saja melewati perbatasan kota.
Curah hujan yang semakin deras memaksanya untuk mencari tempat berlindung. Dua
gelas kopi ia pesan setelah memarkirkan motornya disamping warung nasi
sederhana yang berjejer disepanjang jalan. Ia menawarkan Lena untuk memesan
makanan, sambil menunggu hujan reda. Namun Lena menolak halus tawaran disertai alasan. Ia hanya butuh segelas kopi untuk sekedar menghangatkan badan dan
menjaga agar rasa kantuk tak mengganggunya di perjalanan nanti.
Setengah jam lewat sudah, dan hujan pun perlahan reda hingga kemudian
berhenti tercurah. Ini saat yang tepat bagi mereka untuk melanjutkan perjalanan
yang tertunda. Setelah membayar dua gelas kopi yang mereka habiskan, Raffie
mengajak Lena bersiap-siap untuk pergi. Usai memastikan tidak ada sesuatu yang
tertinggal, mereka berpamitan pada pemilik warung nasi, lalu kembali
berkendara di jalan raya.
Hujan deras yang turun menyisakan sampah
berserakan di jalanan yang mereka lalui. Raffie harus lebih berhati-hati
mengendarai motornya. Selain karena sampah yang bertebaran, ia juga harus
waspada dengan kerikil-kerikil yang terseret arus air hingga tercecer
dijalanan. Masalah klasik yang masih menjadi persoalan bagi pemerintah setempat
untuk lebih meningkatkan kesadaran warga masyaraktnya agar tidak membuang
sampah di sembarang tempat. Demi keselamatan mereka, Raffie mengurangi
kecepatan laju kendaraan roda duanya dan berusaha tetap fokus memperhatikan jalan di depan.
Setelah melintasi jembatan, Raffie menambah kecepatan laju motornya. Karena
merasa tak nyaman, Lena coba mengingatkan agar Raffie tidak terburu-buru untuk
cepat sampai ditujuan. Dan apa yang Lena khawatirkan pun hampir saja terjadi.
Raffie berupaya mempertahankan keseimbangan setelah roda motornya melintasi
genangan air. Ia tak mengira jika dalam genangan air terdapat lubang cukup
dalam. Lena menjerit dengan kedua tangan memeluk erat tubuh Raffie. Sebelah
kakinya terlepas dari tempat pijakan. Beruntung tak ada kendaraan lain, baik
dibelakangnya maupun kendaraan yang melaju dari arah berlawanan. Satu hal lagi
yang menjadi masalah bagi keselamatan pengguna jalan. Entah apa yang menjadi
kendala, sehingga terkesan tak ada upaya dari pemerintah untuk secepatnya
melakukan perbaikan. Sepertinya program pemeliharaan jalan pun tak terealisasi
sesuai jadwal yang telah direncanakan. Jika saja terus dibiarkan, bukan hal
yang tidak mungkin akan menambah daftar panjang korban kecelakaan lalu lintas
yang salah satunya akibat dari rusaknya jalan.
Guna menenangkan diri, Raffie perlahan menepi, kemudian berhenti
sejenak untuk memastikan kalau Lena baik-baik saja, sekalian memeriksa kondisi motornya. Setelah yakin tak terdapat kendala apapun,
mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Senja menebar warna di upuk barat. Cahaya jingga
berhias awan putih dan kelabu yang bertebaran dilangit tinggi memberi keindahan
tersendiri bagi setiap yang memandangnya. Padi yang mulai menguning memberi
harapan kebagahagiaan pada setiap mereka yang telah menabur benih di hamparan
sawah luas terbentang. Raffie menepi untuk berhenti. Sejenak menikmati buah
anggur yang mereka beli dari penjual buah-buahan di pinggiran jalan. Sebelum
melanjutkan perjalanan, mereka sepakat membeli kembali buah anggur dan lainnya untuk diberikan sebagai buah tangan dari mereka pada orang yang akan
dikunjunginya. Tak ingin menunggu malam tiba, Raffie bergegas mengajak Lena
untuk bersiap pergi.
Menjelang Isya mereka tiba ditujuan. Raffie mematikan
mesin motornya didepan rumah orang yang akan dikunjunginya. Belum sempat ia
menekan tombol bel yang menempel di tembok pagar halaman, seseorang keluar dari
pintu rumah, berjalan cepat menghampiri mereka yang tengah berdiri menanti.
Raffie dan Lena mengangguk hormat disertai senyum ramah ketika ia datang
mendekat. Usai bersalaman dan bertegur sapa, Lena berjalan perlahan mengikuti
tuan rumah seperti yang diminta. Raffie menuntun motornya memasuki halaman,
kemudian memarkirkannya disana. Setelah menutup pagar, ia bergegas menyusul
Lena kedalam.
Arief meringis kesakitan ketika berusaha menurunkan
sebelah kakinya dari atas meja. Raffie cepat membantu, sementara Lena duduk
terdiam memperhatikan mereka. Ini hari keempat bagi Arief beristirahat total
guna memulihkan kondisinya setelah mengalami kecelakaan. Sebelah kakinya masih
terbungus kain perban, dan beberapa luka kecil di bagian tangannya sebagian
sudah tampak mengering dan membaik. Sebisa mungkin Raffie berupaya menghibur
Arief dengan cerita-cerita lucu yang pernah mereka lalui bersama. Sebagai
aktivis mahasiswa, Arief dikenal teman-temannya sebagai orang pergerakan yang
kerap menyuarakan berbagai aspirasi, baik didalam maupun diluar kampus. Arief juga merupakan salah satu jurnalis tabloid kampus yang dirintisnya bersama
teman-teman seperjuangannya. Meski berada dijajaran pimpinan redaksi, Arief tetap berperan aktif mencari berita untuk tabloidnya. Belakangan kemudian, ia
mengajak Raffie bergabung dan memintanya menjadi editor di sana, guna
mengisi kekosongan tempat yang ditinggalkan editor sebelumnya. Selain sebagai
kakak tingkat, Arief sudah menganggap Raffie seperti saudaranya sendiri.
Angin malam menyelinap masuk lewat pintu yang setengah
terbuka. Ibu Arief melangkah perlahan, menutup pintu rumah rapat-rapat lalu
menguncinya. Sebelum kembali ke kamar, ia menawarkan mereka untuk dibuatkan
seduhan minuman. Raffie mengangguk, berbasa-basi menolak dengan alasan tak
ingin merepotkan. Sementara itu Lena benar-benar menolaknya untuk dibuatkan
minuman. Rasa kantuk tak dapat lagi ia tahan. Beberapa kali ia harus mentup
mulutnya karena menguap. Melihat demikian, Ibu Arief tersenyum, kemudian meminta mereka untuk bermalam saja. Lena diminta untuk beristirahat di kamar Riani, adiknya
Arief yang kebetulan tidak pulang akhir pekan ini karena kesibukannya
mengerjakan tugas kuliah. Lena mengangguk malu. Sejenak menoleh kearah Raffie.
Tanpa basa-basi lagi Arief meminta Lena untuk mengikuti permintaan ibunya. Meski
segan dan malu, akhirnya Lena pun perlahan beranjak dari ruang tamu menuju
kamar.
Harum wangi seduhan kopi dimeja tamu membuat Raffie
tak tahan untuk mencicipi. Arief tersenyum melihat Raffie begitu menikmati
secangkir kopi buatan ibunya. Sejenak kemudian obrolan merekapun berlanjut
kembali. Raffie menarik nafas perlahan saat Arief memintanya untuk menceritakan
peristiwa yang pernah menimpa Raffie beberapa waktu lalu (Baca : Jejak Kita - Bagian 4). Sebenarnya Raffie
telah memutuskan untuk tidak mengungkitnya kembali, dan menganggap persoalan
itu selesai. Tapi atas desakan Arief, Raffie pun akhirnya membuka kembali apa
yang telah disimpannya dalam-dalam. Hingga kini Raffie tak tahu pasti alasan
mereka melakukan perbuatan tak terpuji terhadapnya. Namun berdasarkan informasi
yang ia dapatkan dari berbagai sumber, peristiwa tersebut ada keterkaitan atas
kedekatannya dengan Lena saat itu. Seseorang merasa tak suka melihat ia
dekat dengan Lena. Mungkin ia menaruh hati padanya, namun upaya untuk menarik
simpati Lena merasa terhalangi olehnya. Jadi Raffie pikir, itu persoalan biasa.
Hanya saja Raffie sangat menyayangkan, kenapa jika hanya karena persoalan itu
harus terjadi insiden demikian. Namun Arief memiliki pandangan berbeda. Ia pikir
bukan karena persoalan kedekatan Raffie dengan Lena, tapi ada hal lain yang
mendasari perbuatan mereka terhadapnya. Ia tahu orang-orang yang Raffie
ceritakan padanya. Menurut pandangan Arief, peristiwa itu erat hubungannya
dengan aktivitas Raffie di BEM, juga aktivitas organisasinya diluar kampus.
Namun Raffie bersikeras mempertahankan argumentasinya, jika peristiwa itu hanya
karena kesalahfahaman belaka, meski sebenarnya hati kecilnya cenderung sepakat
dengan apa yang Arief sampaikan. Raffie hanya berusaha untuk melupakan apa yang
telah menimpanya. Sesungguhnya Ia pun tak begitu yakin jika Lena penyebab
semuanya. Ia percaya, Lena hanya sebagai pengalih perhatian saja untuk mereka
jadikan alasan. Ternyata Arief tak mau menyerah kalah dan berpihak pada argumentasi Raffie. Ia berusaha terus mendesak agar Raffie jujur mengakui,
bahwa apa yang Raffie sampaikan padanya hanya karena tak ingin mempersoalkan
hal itu lagi. Dan pada akhirnya Raffie harus jujur mengikuti kata hatinya.
Sambil menunduk ia mengakui, apa yang telah Arief sampaikan padanya dapat ia
mengerti dan pahami. Arief pun tersenyum sambil menepuk lengan Raffie. Ia
berharap Raffie tidak lantas berdiam diri atas perlakuan mereka terhadapnya. Ia
pun meminta agar Raffie membuka kembali peristiwa itu. Menurutnya, Raffie bisa
memanfaatkan tabloid kampus sebagai media untuk mengungkap persoalan yang
sebenarnya dibalik insiden itu. Ia bisa menulis artikel atau cerita apapun
disana. Atas saran Arief, Raffie mengangguk setuju dan berjanji untuk secepat
mungkin menulis artikel atau cerita atau apapun di tabloid kampusnya. Arief pun
tertawa kecil sambil meninju Raffie, kemudian dengan bahasa tubuhnya ia memberi
dorongan semangat pada sahabat karibnya ini.
Tak terasa malam beranjak larut. Senandung binatang malam senyap tak
terdengar, seakan terbius oleh rintik hujan yang perlahan turun semakin deras.
Arief beberapa kali menguap, begitupun halnya dengan Raffie. Sementara itu, ibu
Arief dan Lena sudah terlelap dengan mimpinya masing-masing. Arief meminta Raffie
untuk memapahnya menuju kamar. Tak lama kemudian mereka pun terbaring berupaya memejamkan mata.
Separuh malam yang mereka lalui menyimpan kisah untuk
saling berbagi cerita. Begitupun angan dan harapan Lena yang terbawa mimpi,
membuahkan senyum manis ketika kedua matanya menatap mentari pagi
diiringi kicau burung yang hinggap di ranting pohon. Sisa embun pagi
menggelayut diujung dedaunan, memantulkan cahaya berkilau bagai intan permata
dibelahan garis katulistiwa.
“Bagaimana tidurmu semalam nak?”.
Tanya ibu Arief tiba-tiba, saat mendapati Lena tengah berdiri menatap
keluar jendela.
Lena cepat menoleh kearah suara.
“Nyenyak sekali tante”.
Jawab Lena singkat sambil tersenyum malu.
“Kamu pakai saja ini kalua mau mandi!”.
“Tante sudah siapkan sarapan untuk kalian”.
Lanjut ibu Arief sembari memberikan handuk pada Lena.
Lena mengangguk dengan memberi sedikit jawaban, kemudian bergegas pergi
menuju kamar mandi setelah ditunjukkan arah dan tempatnya.
Sementara itu dihalaman rumah, Raffie masih berkutat dengan motornya.
Andai saja Arief dan juga ibunya tak menyarankan Raffie utnuk mencuci motor dan
memanaskan mesinnya, mungkin ia akan membiarkannya terparkir dengan kondisi
seadanya. Tak lama kemudian ibu Arief pun memanggilnya untuk sarapan bersama,
setelah sebelumnya meminta Raffie untuk pergi mandi terlebih dahulu.
Matahari semakin meninggi. Awan putih bertebaran
dilangit. Gumpalannya sesekali menahan terik dan memberi keteduhan bagi
penghuni alam. Raffie bersiap pergi setelah berpamitan. Arief Kembali
mengingatkan tentang apa yang telah ia sampaikan semalam.
“Hidup harus tetap berjalan, dan perjuangan kita masih panjang”.
Ucap Arief memberi semangat.
Raffie mengepalkan sebelah tangannya, kemudian mendorong sekuat tenaga
kearah depan.
Mesin motor ia nyalakan, sementara itu Lena membukakan pagar halaman. Dan lambaian tangan pun menjadi penutup perjumpaan.
Nantikan kelanjutan kisahnya di Arena Blog

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Sampaikan komentar anda dengan bijak