Translate

Jejak Kita - Bagian 6

Prasangka

Reni mengajak Lena mempercepat langkahnya saat rintik hujan datang menyapa. Mall pusat perbelanjaan tak jauh dari jangkauan, menjadi sasaran tempat untuk mereka berteduh. Angin berhembus kencang, berputar-putar tak terkendali. Curah hujan bagai penari ular, meliuk-liuk ke segala arah dibawa kendali angin. Rupanya alam ingin menunjukkan kekuatannya pada penghuni bumi, agar mereka tak angkuh dan senantiasa ingat akan kuasa Tuhan.

Suasana menjadi semakin menakutkan ketika tenda-tenda pelindung barang dagangan berterbangan.  Papan reklame yang tampak kokoh ikut bergoyang, lampu-lampu mendadak padam. Lena dan Reni beranjak masuk area perbelanjaan, saling memeluk mencari tempat perlindungan yang meraka rasa lebih aman.

Lena menoleh kearah suara ketika seseorang memanggil dan menghampirinya. Jika diperhatikan dari cara bertegur sapa dan saling bicara, sepertinya mereka sudah cukup akrab. Sementara Reni hanya bisa diam, menyimak obrolan, dan sesekali ikut tertawa ringan di tengah pembicaraan. Di ujung percakapan, setengah memaksa Lena meminta Reni turut menemaninya. Dan  Yodha, nama lelaki itu, coba tawarkan jasa mengantar Reni ke tujuan, namun ia tetap pada pendirian. Dengan gaya khas Reni menolak halus ajakan. Lena sejenak diam, berpikir dan menimbang. Perasaannya bicara, tak enak juga baginya untuk pergi begitu saja. Reni coba memastikan, sungguh tak masalah untuknya jika ditinggal sendirian, dengan alasan selain berbeda tujuan arah pulang, masih ada urusan lain yang harus ia tuntaskan. Meski berat hati, akhirnya Lena berpamitan pergi.

Ketika itu hujan mulai reda, tinggal menyisakan rintiknya. Mungkin sesekali saja para pengemudi butuh menggerakkan wiper untuk menyapu tetesan air di kaca mobilnya.

Yodha memilih jalan alternatif guna menghindari kemacetan. Ia tahan laju kendaraan saat akan mendahului kendaraan lain di depannya. Dari arah berlawanan, pengendara motor melakukan hal yang sama untuk menghidari benturan. Lena menjerit sambil menahan tubuhnya yang terdorong kedepan dengan kedua tangan di dashboard mobil yang ia tumpangi. Detak jantung bergerak cepat, dan lebih cepat lagi saat matanya tak sengaja beradu tatap dengan pengendara motor di hadapannya.

“Raffie ?!”.

Ucapnya singkat. 

“Lena ?!”.

Umpat Raffie dalam hati.     

Andai saja ia tak mengenal orang disamping pengemudi, mungkin emosinya bisa saja meluap tak terkendali. Namun setelah tahu siapa orang disamping pengemudi, Raffie memutuskan pergi dengan seikat tanya dibenaknya, tanya tentang siapa lelaki disamping Lena tadi. 

“Bukankah dia orang yang aku lihat di teras rumah, saat aku mengantar Lena pulang malam itu”.

Umpat Raffie, mengingat kembali. 

Dan tanya lain semakin melebar, saat ia ingat kalau kendaraan itu mirip betul denngan kendaraan yang menghadangnya beberapa waktu kebelakang. Selintas ia perhatikan bagian belakang mobil itu sebelum mempercepat laju motornya. Di kaca belakang mobil bagian kanan terdapat sticker bertuliskan nama fakultas sebuah perguruan tinggi, dan di bagian kiri menempel sticker bergambar alat musik pukul (drums) bertuliskan nama sebuah group band. Raffie ingat betul wajah orang yang pernah menyerangnya, tapi tak mengenali wajah lelaki yang tadi selintas ia pandangi.  Raffie memutar kembali ingatan dan menduga-duga dengan kemampuan pikiran, bahwa lelaki itu mungkin saja pengemudi bermotor yang pernah mencelakainya. Di ujung jalan Raffie  sampai pada kesimpulan perkiraannya, dan ia sangat menyesalkan, mengapa harus menggunakan cara kasar. Pake keroyokan segala. Ia pikir jika itu persoalannya, masih bisa diselesaikan dengan saling bicara. Ng’gak perlu berlaku pengecut, melakukan perbuatan tidak menyenangkan.

Setengah berlari Lena bergegas menuju teras setelah menutup pagar halaman rumah yang ia tinggali. Yodha memberi isyarat bunyi klakson sebelum melambaikan tangan, perlahan melaju pergi menjauh. Andai saja Lena tak ada urusan lain seperti yang ia sampaikan, mungkin Yodha akan dengan senang hati untuk mampir dan melanjutkan obrolannya yang terpenggal.

Sepeninggal Yodha, Lena merapikan kamar yang tak sempat ia lakukan karena terburu waktu mengejar jam perkuliahan. Selepas mengambil air wudhu dan menunaikan kewajiban sebagai seorang muslimah, Lena berganti pakaian.

Meski terselip sedikit ragu, dan tak tahu kalimat apa yang harus ia ketikkan dilayar pesan, akhirnya mulai juga Lena menyusun rangkaian kata, walau tahu pesan terdahulu belum dibaca penerima. Pesan terakhir yang ia kirimkan bertanda sama dengan sebelumnya. 

“Hp-nya masih tidak aktif juga. Atau jangan-jangan..”. 

Lena menggumam dan berprasangka kalau nomor kontaknya diblokir penerima. Tapi pikiran itu segera ia tepiskan sejauh yang bisa ia lakukan.

Hingga saat ini Lena belum menemukan jawaban pasti, mengapa malam itu Raffie bertingkah seperti orang tak dikenal, memberikan sejumlah uang sebelum pamit pergi, padahal ia telah berencana untuk singgah meski hanya sebentar. Dan kini, delapan hari sudah ia lewati tanpa ada komunikasi dengan Raffie. Terlintas dibenaknya untuk mendatangi Raffie, tapi rasa ragu kembali menghinggapi.

Lena bergegas melakukan panggilan, setelah membuka panggilan tak terjawab dilayar handphone-nya. Penuh harap Lena mendapat informasi yang ia butuhkan. Namun semua itu pupus sudah. Orang yang ia hubungi ternyata berharap jawaban yang sama dengannya. Sama-sama mencari tahu keberadaan Raffie saat ini. Percakapan pun berakhir tanpa berbuah hasil.

Keesokan harinya Lena coba berkeliling, sendiri mendatangi setiap tempat dimana biasa anak kampus berkumpul. Tapi orang yang dicari tak juga ia dapati.
Setelah membeli makanan ringan dan segelas minuman, Lena memilih tempat dimana ia dapat melihat jelas ke pintu gerbang masuk halaman. Tak lama kemudian Dion datang menghampiri. Tegur sapa pun berlanjut ke perbincangan. Topik pembicaraan mereka mengarah ke satu nama. Dan tiba-tiba Dion beranjak dari bangku yang ia tempati, ketika melihat Raffie dengan motor kesayangannya melaju perlahan melintasi halaman. Raffie menghentikan laju motor tepat dihadapan Dion yang berdiri menghalangi lintasan. Sementara itu Lena duduk manis menanti, berharap Raffie datang menghampiri.

Setelah menerima beberapa penjelasan, akhirnya Raffie menyatakan kesediaan mengikuti apa yang Dion sarankan padanya.

Meski tampak kaku, Raffie tetap berusaha melempar senyum dan sapa. Dion pamit berdiri dan pergi, memberi waktu mereka berdua untuk saling bicara tanpa kehadirannya.
Tak menunggu lebih lama, Lena mulai menyampaikan sesuatu yang ingin ia ketahui tentang apa yang ia pertanyakan.
Di ujung penjelasan Raffie sampaikan, mengapa malam itu ia bertingkah seolah tak mengenal Lena saat pamit pergi dengan memberinya sejumlah rupiah. Ia beralasan tak ingin terjadi sesuatu hal yang tak diinginkan. Karena itu ia bertingkah layaknya pengemudi ojek memberi uang kembalian pada pengguna jasanya. Raffie pikir dengan penjelasan itu Lena akan menerima dan memahami maksud dan tujuannya. Tapi ternyata tidak. Lena terus mengejar penjelasan soal tak ingin terjadi sesuatu yang tak diinginkan. 

“Apa maksud dari kalimat itu Fie?”.

Tanya Lena dengan suara pelan sambil menunduk, menatap kedua kaki yang ia gerak-gerakkan. 

Jawaban yang ingin Raffie berikan tertahan pernyataan. Jujur Lena sampaikan, antara dia dengan Yodha tak memiliki hubungan apapun selain pertemanan.
Sejenak Raffie terdiam. Sulit baginya untuk semudah itu percaya. Apalagi jika menghubungkan antara peristiwa yang telah Raffie alami beberapa waktu lalu dengan kehadiran Yodha yang belakangan ia ketahui. Raffie ingat betul kendaraan yang digunakan pengeroyoknya adalah kendaraan yang Yodha pakai saat ini.
Setelah berpikir sejenak, Raffie meminta Lena untuk mengingat apa yang pernah ia ceritakan soal kejadian penyerangan terhadap dirinya. 

“Terus, apa hubungannya antara peristiwa itu dengan Yodha?”.
Tanya Lena meminta penjelasan. 

“Aku yakin sekali, kalau kendaraan yang mereka gunakan saat itu adalah kendaraan yang Yodha pakai saat ini”.

Jawab Raffie dengan penuh keyakinan. 

Kemudian ia sampaikan secara detail mengenai ciri-ciri yang Raffie kenali. Lena geleng-geleng kepala, tak percaya dengan apa yang ia dengar. Tapi jika memang demikian kenyataannya, sampai kapanpun Lena tak bisa terima. Tak akan terima pengakuan sebelah pihak yang Yodha lakukan. Lena tak bisa menunda lebih lama persoalan yang tengah dihadapi.Tanpa berpikir panjang, ia segera menghubungi Yodha dan membuat janji bertemu dengannya saat itu juga. Raffie terperanjat, tak mengira sedikitpun kalau Lena akan melakukan tindakan tanpa mempertimbanngkan dampak atas hal yang ia lakukan. Raffie menyesalkan langkah Lena tanpa mengkomunikasikan terlebih dahulu dengannya. Namun apa boleh buat, semua terlanjur sudah. Guna mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan nantinya, Raffie meminta kesediaan Dion untuk bisa hadir ditengah mereka.

Secara bersamaan, Lena dan Raffie menoleh kearah dimana sebuah mobil  Ford Explorer hitam dengan kaca bening berplat nomor cantik yang melintas perlahan menuju area parkiran. Raffie amati dengan teliti dari kejauhan, kemudian ia tegaskan kembali pada Lena mengenai ciri-ciri mobil yang pernah digambarkan. Keyakinan Lena semakin menguat setelah ia mencocokkan keterangan Raffie dengan apa yang ia lihat. Kesal, emosi tertahan, dan entah apa lagi yang ingin Lena tunjukkan dengan raut wajahnya. Suasana berubah menegangkan saat Yodha mendekat kearah mereka. Raffie meminta Lena untuk bersikap wajar dan tetap tenang, meski ia sendiri merasakan hal yang mungkin saja sama dengan apa yang Lena rasakan.

Yodha datang menghampiri, membawa seulas senyum ramah dan sapa hangat tanpa menunjukkan sikap mencurigakan. Lena mempersilahkan Yodha mengambil tempat untuk bergabung dengan mereka, kemudian memperkenalkan satu persatu teman yang tengah bersamanya. Setelah saling berbagi identitas diri masing-masing dengan orang yang baru saja dipertemukan, perlahan Lena sampaikan maksud dan tujuan meminta Yodha bertemu dengannya saat itu. Lena beberkan semua tentang peristiwa yang Raffie alami beberepa hari kebelakang. Ditengah penuturannya, Yodha meminta paksa jeda waktu untuknya menyampaikan sesuatu. 

“Sebentar Len. Apa hubungannya ceritamu ini denganku?”.

Tanya Yodha penuh selidik. 

Lena menoleh kearah Dion dan Raffie, berharap dapat jawaban. Raffie mengerti maksud isyarat itu. Sebelum memulai, Raffie menoleh kearah Dion dan juga Lena,  dengan maksud memberi mereka kesempatan untuk menyampaikan jawaban. Setelah sepakat melalui isyarat, Raffie mulai mengutarakan penjelasan dengan penuh kehati-hatian, agar tidak terjadi kesalahfahaman. Kata maaf ia dahulukan guna menghindari segala prasangka.
Bukan main terkejutnya Yodha mendengar pemaparan yang Raffie berikan. Ia coba menggali lebih jauh, hingga mendapatkan keterangan, kapan tepatnya peristiwa itu terjadi.

Tak sedikitpun tampak keraguan, baik dari sikap maupun perkataan, saat Yodha tegaskan bahwa ia sama sekali tak terlibat dan tidak bertanggung jawab atas segala perbuatan yang telah mengakibatkan Raffie terluka. Adapun mengenai mobil miliknya yang mereka gunakan saat melakukan pengeroyokan, Yodha berjanji akan mencari tahu dan secepatnya memberi kabar. 


“Beri aku waktu untuk membuktikan!”.

Pinta Yodha pada mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sampaikan komentar anda dengan bijak