Prasangka
Reni mengajak
Lena mempercepat langkahnya saat rintik hujan datang menyapa. Mall pusat
perbelanjaan tak jauh dari jangkauan, menjadi sasaran tempat untuk mereka
berteduh. Angin berhembus kencang, berputar-putar tak terkendali. Curah hujan
bagai penari ular, meliuk-liuk ke segala arah dibawa kendali angin. Rupanya
alam ingin menunjukkan kekuatannya pada penghuni bumi, agar mereka tak angkuh
dan senantiasa ingat akan kuasa Tuhan.
Suasana menjadi semakin menakutkan ketika tenda-tenda pelindung barang dagangan berterbangan. Papan reklame yang tampak kokoh ikut bergoyang, lampu-lampu mendadak padam. Lena dan Reni beranjak masuk area perbelanjaan, saling memeluk mencari tempat perlindungan yang meraka rasa lebih aman.
Lena menoleh kearah suara ketika seseorang memanggil dan
menghampirinya. Jika diperhatikan dari cara bertegur sapa dan saling bicara,
sepertinya mereka sudah cukup akrab. Sementara Reni hanya bisa diam, menyimak
obrolan, dan sesekali ikut tertawa ringan di tengah pembicaraan. Di ujung
percakapan, setengah memaksa Lena meminta Reni turut menemaninya. Dan
Yodha, nama lelaki itu, coba tawarkan jasa mengantar Reni ke tujuan,
namun ia tetap pada pendirian. Dengan gaya khas Reni menolak halus ajakan. Lena
sejenak diam, berpikir dan menimbang. Perasaannya bicara, tak enak juga baginya
untuk pergi begitu saja. Reni coba memastikan, sungguh tak masalah untuknya jika
ditinggal sendirian, dengan alasan selain berbeda tujuan arah pulang, masih ada
urusan lain yang harus ia tuntaskan. Meski berat hati, akhirnya Lena berpamitan
pergi.
Ketika itu
hujan mulai reda, tinggal menyisakan rintiknya. Mungkin sesekali saja para
pengemudi butuh menggerakkan wiper untuk menyapu tetesan air di kaca mobilnya.
Yodha memilih jalan alternatif guna menghindari kemacetan. Ia
tahan laju kendaraan saat akan mendahului kendaraan lain di depannya. Dari arah
berlawanan, pengendara motor melakukan hal yang sama untuk menghidari benturan.
Lena menjerit sambil menahan tubuhnya yang terdorong kedepan dengan kedua
tangan di dashboard mobil yang ia tumpangi. Detak jantung bergerak cepat, dan
lebih cepat lagi saat matanya tak sengaja beradu tatap dengan pengendara motor
di hadapannya.
Andai saja ia tak mengenal orang disamping pengemudi, mungkin emosinya bisa saja meluap tak terkendali. Namun setelah tahu siapa orang disamping pengemudi, Raffie memutuskan pergi dengan seikat tanya dibenaknya, tanya tentang siapa lelaki disamping Lena tadi.
Dan tanya lain semakin melebar, saat ia ingat kalau kendaraan itu
mirip betul denngan kendaraan yang menghadangnya beberapa waktu kebelakang.
Selintas ia perhatikan bagian belakang mobil itu sebelum mempercepat laju
motornya. Di kaca belakang mobil bagian kanan terdapat sticker bertuliskan nama
fakultas sebuah perguruan tinggi, dan di bagian kiri menempel sticker bergambar
alat musik pukul (drums) bertuliskan nama sebuah group band. Raffie ingat betul
wajah orang yang pernah menyerangnya, tapi tak mengenali wajah lelaki yang tadi
selintas ia pandangi. Raffie memutar kembali ingatan dan menduga-duga dengan
kemampuan pikiran, bahwa lelaki itu mungkin saja pengemudi bermotor yang pernah
mencelakainya. Di ujung jalan Raffie sampai pada kesimpulan perkiraannya,
dan ia sangat menyesalkan, mengapa harus menggunakan cara kasar. Pake keroyokan
segala. Ia pikir jika itu persoalannya, masih bisa diselesaikan dengan saling
bicara. Ng’gak perlu berlaku pengecut, melakukan perbuatan tidak menyenangkan.
Setengah
berlari Lena bergegas menuju teras setelah menutup pagar halaman rumah yang ia
tinggali. Yodha memberi isyarat bunyi klakson sebelum melambaikan tangan,
perlahan melaju pergi menjauh. Andai saja Lena tak ada urusan lain seperti yang
ia sampaikan, mungkin Yodha akan dengan senang hati untuk mampir dan
melanjutkan obrolannya yang terpenggal.
Sepeninggal Yodha, Lena merapikan kamar yang tak sempat ia lakukan
karena terburu waktu mengejar jam perkuliahan. Selepas mengambil air wudhu dan
menunaikan kewajiban sebagai seorang muslimah, Lena berganti pakaian.
Meski terselip sedikit ragu, dan tak tahu kalimat apa yang harus ia ketikkan dilayar pesan, akhirnya mulai juga Lena menyusun rangkaian kata, walau tahu pesan terdahulu belum dibaca penerima. Pesan terakhir yang ia kirimkan bertanda sama dengan sebelumnya.
“Hp-nya masih tidak aktif juga. Atau jangan-jangan..”.
Lena menggumam dan berprasangka kalau nomor kontaknya diblokir
penerima. Tapi pikiran itu segera ia tepiskan sejauh yang bisa ia lakukan.
Hingga saat ini Lena belum menemukan jawaban pasti, mengapa malam
itu Raffie bertingkah seperti orang tak dikenal, memberikan sejumlah uang
sebelum pamit pergi, padahal ia telah berencana untuk singgah meski hanya
sebentar. Dan kini, delapan hari sudah ia lewati tanpa ada komunikasi dengan
Raffie. Terlintas dibenaknya untuk mendatangi Raffie, tapi rasa ragu kembali
menghinggapi.
Lena bergegas melakukan panggilan, setelah membuka panggilan tak
terjawab dilayar handphone-nya. Penuh harap Lena mendapat informasi yang ia
butuhkan. Namun semua itu pupus sudah. Orang yang ia hubungi ternyata berharap
jawaban yang sama dengannya. Sama-sama mencari tahu keberadaan Raffie saat ini.
Percakapan pun berakhir tanpa berbuah hasil.
Setelah menerima beberapa penjelasan, akhirnya Raffie menyatakan kesediaan mengikuti apa yang Dion sarankan padanya.
Secara
bersamaan, Lena dan Raffie menoleh kearah dimana sebuah mobil Ford
Explorer hitam dengan kaca bening berplat nomor cantik yang melintas perlahan
menuju area parkiran. Raffie amati dengan teliti dari kejauhan, kemudian ia
tegaskan kembali pada Lena mengenai ciri-ciri mobil yang pernah digambarkan.
Keyakinan Lena semakin menguat setelah ia mencocokkan keterangan Raffie dengan
apa yang ia lihat. Kesal, emosi tertahan, dan entah apa lagi yang ingin Lena
tunjukkan dengan raut wajahnya. Suasana berubah menegangkan saat Yodha mendekat
kearah mereka. Raffie meminta Lena untuk bersikap wajar dan tetap tenang, meski
ia sendiri merasakan hal yang mungkin saja sama dengan apa yang Lena rasakan.
Yodha datang menghampiri, membawa seulas senyum ramah dan sapa hangat tanpa menunjukkan sikap mencurigakan. Lena mempersilahkan Yodha mengambil tempat untuk bergabung dengan mereka, kemudian memperkenalkan satu persatu teman yang tengah bersamanya. Setelah saling berbagi identitas diri masing-masing dengan orang yang baru saja dipertemukan, perlahan Lena sampaikan maksud dan tujuan meminta Yodha bertemu dengannya saat itu. Lena beberkan semua tentang peristiwa yang Raffie alami beberepa hari kebelakang. Ditengah penuturannya, Yodha meminta paksa jeda waktu untuknya menyampaikan sesuatu.
Tak sedikitpun tampak keraguan, baik dari sikap maupun perkataan, saat Yodha tegaskan bahwa ia sama sekali tak terlibat dan tidak bertanggung jawab atas segala perbuatan yang telah mengakibatkan Raffie terluka. Adapun mengenai mobil miliknya yang mereka gunakan saat melakukan pengeroyokan, Yodha berjanji akan mencari tahu dan secepatnya memberi kabar.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Sampaikan komentar anda dengan bijak