Aroma wangi kopi memberi kehangatan suasana pagi di pelataran rumah mewah berpagar besi dengan kombinasi ukiran kayu jati. Bagian garasi terisi dua buah mobil berkelas yang berderet rapi. Lampu taman masih menyala. Mungkin pemilik rumah sengaja membiarkan lampu lebih lama bercahaya, karena mentari masih tersembunyi dibalik awan tinggi. Yodha meminta penjaga rumah untuk memeriksa, siapa yang membunyikan bel diluar pagar halaman rumahnya. Setelah dipastikan pengunjung rumah adalah orang yang ditunggu majikannya, ia mempersilahkan tamu untuk masuk dengan tersenyum ramah.
“Oh iya Dut”.
Begitu Yodha biasa memanggil Basrie dengan panggilan singkat, kependekan dari Kadut.
Yodha bersiap diri untuk berangkat setelah orang yang menghubungi bersepakat mengenai waktu dan tempat dimana mereka akan saling bertemu. Kali ini ia tak pergi sendiri. Basrie ikut menemani. Penuh keyakinan Yodha duduk dibelakang kemudi, menyetir mobil menelusuri jalan yang ia kehendaki.
Suasana jalan raya diakhir pekan cukup padat dipenuhi kendaraan. Yodha harus sedikit bersabar untuk bisa secepatnya tiba ditujuan. Momen ini ia manfaatkan guna mengingatkan Basrie kembali tentang apa saja yang telah Yodha utarakan padanya. Kelanjutan Langkah kedepan akan secepatnya ia kabarkan. Beberapa hal penting Yodha dapatkan dari perbincangan. Kini lebih banyak opsi baginya untuk menyelesaikan persoalan. Setelah beberapa saat berpikir, Yodha meminta Basrie menghubungi Bonie. Ia pikir kehadiran Bonie akan membantu proses penyelesaian persoalan yang tengah dihadapi. Bonie akan menjadi salah satu alibi baginya menepis tuduhan atas keterlibatannya dalam tindakan penyerangan terhadap Raffie. Bagaimanapun caranya, Yodha harus bisa menghadirkan Bonie. Untuk itu, selepas Basrie menghubungi Bonie, Yodha membelokkan arah laju kendaraan seperti yang temannya minta.
“Biar aku saja yang temui dia”.
Pinta Basrie singkat.
Untuk kesekian kali Lena menoleh ke arah area parkir kendaraan roda empat. Harap cemas ia mengira kemungkinan, datang atau tidak Yodha memenuhi janjinya. Dan hal itu membuat Lena tak lagi fokus terhadap apa yang Raffie maupun Dion perbincangkan. Handphone tak lepas dari genggaman, se-sering mungkin ia pastikan, barangkali ada pesan masuk yang terlewatkan. Raffie perlahan berdiri, melangkah setengah berlari setelah beritahukan Dion dan Lena kemana ia akan pergi.
Rasa cemas terhapus sudah. Orang yang dinanti mulai menampakkan
tanda-tanda kedatangannya. Mobil Ford Explorer hitam dengan kaca yang tak lagi
tembus pandang melintas memasuki area parkiran. Lena menoleh ke arah mana tadi
Raffie pergi. Hatinya bertanya, kenapa ia belum juga kembali.
Diiringi dua teman berjalan disamping kiri dan kananya, Yodha
melangkah pasti bagai seorang menteri akan menghadiri acara seremonial
kenegaraan. Pandangan lurus ke depan, tak menghiraukan tatap mata para
pengunjung rumah makan yang melirik ke arahnya. Lena berdiri, lalu melambaikan
tangan. Setelah Yodha datang menghampiri, ia persilahkan untuk mengisi tempat
yang telah disediakan.
Tegur sapa dan senyum hangat mengawali pertemuan mereka disiang
hari yang tampak cerah. Lena bernafas lega saat Raffie datang menghampiri,
menyalami satu persatu teman yang baru tiba dengan seulas senyum dibibirnya.
Raffie duduk sambil memperhatikan seseorang di samping Yodha. Ia ingat kembali
orang bermotor yang menyerangnya. Postur tubuh dan sorot matanya mirip sekali
dengan orang yang menerjangnya beberapa waktu kebelakang. Sementara itu, Bonie
duduk tegap, bersikap tenang, tak menunjukkan sesuatu yang mencurigakan. Namun
Raffie membaca gestur dan raut wajah Bonie ketika beradu tatap saat
menyalaminya.
Selepas pelayan rumah makan mencatat masing-masing pesanan di nota
tagihan yang harus mereka bayar kemudian, Lena membuka perbincangan langsung ke
pokok persoalan. Ia meminta Yodha untuk memberi jawaban yang tertunda, sesuai
waktu yang dijanjikan.
Mengawali penuturan, Yodha sampaikan alasan kedatangannya bersama
dua orang teman. Hal ini ia lakukan karena berkaitan erat dengan pembuktian
mengenai ketidakterlibatannya dalam suatu tindakan yang dituduhkan padanya.
Setelah mendapat persetujuan Lena, Raffie dan Dion, Yodha meminta
temannya untuk memberi jawaban dan penjelasan atas peratanyaan yang ia ajukan.
“Kapan terakhir kali kamu pakai mobilku?”.
Tanya Yodha kemudian.
Basrie coba memutar ingatan. Setelah merasa yakin, ia sampaikan
jawaban.
“Memangnya kenapa Yodh?”.
“Apa terjadi sesuatu dengan mobilmu?”.
Basrie balik bertanya sambil menoleh kearah dimana mobil Yodha di parkirkan.
Yodha menggelengkan kepala, diikuti penjelasan mengenai kondisi
mobilnya. Ia meminta Basrie mengingat kembali, kemana saja waktu itu ia
pergunakan.
Basrie memutar kembali ingatan hingga berhenti di satu titik, dimana ia telah menemukan suatu jawaban.
“Ketika itu saya berkendara bersama Bonie, bermaksud membeli
sarapan pagi nasi uduk di seputaran alun-alun kota. Kemudian Bonie permisi
pergi saat saya baru memesan makanan. Ia bilang ada janji bertemu temannya.
Saya pun menunggu hingga makanan yang dipesan saya habiskan, dan Bonie baru
muncul kembali beberapa lama kemudian”.
Se-rinci mungkin Basrie sampaikan semua yang menempel diingatan.
Yodha menyimak penuh harap. Entah apa yang Yodha harapkan dari
penuturan Basrie saat itu. Sementara bunyi sirine semakin jelas mendekat,
mellintas cepat, kemudian hilang dan kembali senyap. Rupanya kendaraan tahanan
kejaksaan membawa para pelaku tindak kejahatan menuju tempat dimana mereka akan
disidangkan.
“Oh, jadi kamu orangnya yang telah memukuli Raffie?!!”.
Bentak Lena berteriak lantang.
Semua orang dimeja terperanjat kaget, begitupun orang-orang di sekitar tempat itu. Raffie coba menenangkan. Ia turunkan tangan Lena perlahan, memintanya untuk mengendalikan amarah. Dion mengambil langkah bijak. Ia berikan Bonie kesempatan untuk menyampaikan penjelasan. Melalui isyarat tangan Yodha mempersilahkan Bonie mengemukakan jawaban.
“Saya tidak mengerti, ada apa ini sebenarnya?!”.
“Tapi baiklah, akan saya coba sampaikan”.
Bonie tampak gugup diawal penjelasan. Sejenak menarik nafas
panjang, lalu kemudian melanjutkan pemaparan.
Menurut pengakuannya, pagi itu ia pamit pergi, janji bertemu Erwan dan Didu. Ada hal yang ingin mereka sampaikan padanya waktu itu. Lokasinya tak jauh dari alun-alun kota. Hanya butuh waktu 5 menit paling lama untuk sampai tujuan. Berbincang beberapa saat, dan disela perbincangan Erwan pamit, mohon izin menggunakan kendaraan untuk mengambil sesuatu.
“Sebentar saja katanya”.
Lanjut Bonie menjelaskan.
Bonie menutup penuturan dengan kalimat sanggahan jika dirinya tak
tahu menahu tentang apa yang Lena tuduhkan padanya.
Raffie menarik nafas perlahan. Pikirannya menerawang jauh,
menduga-duga apa yang baru saja ia saksikan. Terlintas dibenaknya, jika
ini semua hanya bagian dari upaya pembenaran atas hal yang telah Yodha lakukan.
Raffie merasa ada ketidakberesan dari penjelasan kedua orang dihadapannya.
Seperti telah diatur sebelumnya. Harapan terakhir untuk mengungkap
peristiwa itu hanya dengan menghadirkan Erwan ditengah-tengah mereka.
Dion minta kesediaan Bonie menghubungi Erwan, berharap ia bersedia
untuk datang.
Sementara itu, sambil merentangkan kedua tangan, pandangan mata
lurus kedepan menatap pucuk pohon cemara di seberang jalan, Yodha menarik nafas
lega.
Bagaimana ia tidak merasa lega. Yodha pikir penjelasan kedua
temannya telah menjauhkan dirinya dari segala tuduhan, yang mungkin saja
dikemudian hari bisa menyeretnya pada persoalan-persoalan hukum diluar
kendalinya. Tak terbayangkan, andai saja ia tak dapat membuktikan
ketidakterlibatannya dalam tindakan penyerangan terhadap Raffie, maka sudah
dapat dipastikan ia akan mendekam di balik jeruji besi, dengan menyandang
predikat narapidana.
Bonie mengakhiri panggilan setelah mendapat jawaban. Ia
beritahukan, Erwan akan datang jika Yodha memintanya.
“Oke, aku tunggu kamu disana”.
Usai saling berpamitan mereka melangkah pergi dengan tujuannya
masing-masing. Yodha bergerak cepat bersama kedua temannya. Lena, Raffie dan
Dion bersiap pergi menjauh dari tempat pertemuan.
Selepas menyimpan
helmet di stang motornya, Dion melangkah perlahan memasuki sebuah mini market.
Ketika menoleh ke arah Caffe di seberang jalan, tak sengaja ia melihat Yodha
tengah berbincang dengan seseorang. Dion teringat beberapa saat yang lalu,
ketika Yodha menghubungi seseorang bernama Erwan dan membuat janji untuk mereka
bertemu. Selepas membayar beberapa barang yang ia beli di meja kasir, Dion
kembali ke parkiran, berpura-pura memeriksa kondisi mesin di motornya dengan
mata tetap mengawasi pergerakan diseberang jalan. Ia yakin laki-laki yang
tengah berbincang serius dengan Yodha adalah Erwan, orang yang diceritakan
Bonie di tempat mereka bertemu.
Dion
menghidupkan motor dan cepat membuntuti kemana Erwan pergi. Beberapa meter dari
tikungan jalan, mobil menepi dan berhenti. Seseorang keluar dari pintu pagar
rumah, berjalan menghampiri Erwan yang menanti dibelakang kemudi. Setelah
berbincang sesaat dan memberikan sesuatu, orang itu kembali masuk kedalam
rumah. Tanpa pikir panjang Dion mendatangi Erwan, meminta paksa untuk turun
dari kendaraan. Dion mendorong, lalu menekan Erwan hingga tubuhnya tersandar ke
mobil. Merasa terdesak situasi sulit yang ia hadapi, akhirnya Erwan pun
memberikan jawaban.
“Yodha yang memintaku untuk melakukan itu semua”. Ucap Erwan dengan
nafas tersengal.
Dion melepas genggaman di pergelangan tangan Erwan, lalu kemudian
membiarkannya pergi setelah memberinya peringatan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Sampaikan komentar anda dengan bijak