Translate

Jejak Kita - Bagian 7

 
Konspirasi     

Aroma wangi kopi memberi kehangatan suasana pagi di pelataran rumah mewah berpagar besi dengan kombinasi ukiran kayu jati. Bagian garasi terisi dua buah mobil berkelas yang berderet rapi. Lampu taman masih menyala. Mungkin pemilik  rumah sengaja membiarkan lampu lebih lama bercahaya, karena mentari masih tersembunyi dibalik awan tinggi. Yodha meminta penjaga rumah untuk memeriksa, siapa yang membunyikan bel diluar pagar halaman rumahnya. Setelah dipastikan pengunjung rumah adalah orang yang ditunggu majikannya, ia mempersilahkan tamu untuk masuk dengan tersenyum ramah.

Salam sapa mengawali jumpa mereka sebelum berlanjut ke perbincangan berikutnya. Yodha menawarkan pilihan untuk dibuatkan secangkir minuman. Tak lama berselang, perempuan separuh baya dengan nampan di kedua tangan datang membawa secangkir kopi dan beberapa potong roti bertabur keju susu. Sebelum membuka obrolan, terlebih dahulu Yodha mempersilahkan temannya mencicipi suguhan yang tersaji dimeja. Sepertinya ia ingin sebisa mungkin suasana santai di pagi hari tetap terjaga.            
Berawal pertanyaan-pertanyaan ringan yang saling mereka lemparkan, Yodha lanjut beranjak pada pokok persoalan. 

“Oh iya Dut”.

Begitu Yodha biasa memanggil Basrie dengan panggilan singkat, kependekan dari Kadut. 

Setelah berpikir sejenak, Yodha sampaikan secara detail dan se-rinci mungkin, apa saja yang harus Basrie ketahui untuk dimengerti dan difahami.
Basrie mengangguk, lalu meyakinkan Yodha kalau ia mengerti dan bisa memahami.  

Yodha bersiap diri untuk berangkat setelah orang yang menghubungi bersepakat mengenai waktu dan tempat dimana mereka akan saling bertemu. Kali ini ia tak pergi sendiri. Basrie ikut menemani. Penuh keyakinan Yodha duduk dibelakang kemudi, menyetir mobil menelusuri jalan yang ia kehendaki.

Sementara itu, selepas menghubungi Yodha, Lena langsung mengontak Raffie. Sedikit memaksa, Ia meminta Raffie meluangkan waktu untuk bertemu dengannya ditempat yang telah ditentukan. Lena berharap Raffie bisa datang lebih awal. Ada beberapa hal yang harus ia bicarakan sebelum pertemuan dimulai.  

Suasana jalan raya diakhir pekan cukup padat dipenuhi kendaraan. Yodha harus sedikit bersabar untuk bisa secepatnya tiba ditujuan. Momen ini ia manfaatkan guna mengingatkan Basrie kembali tentang apa saja yang telah Yodha utarakan padanya.  Kelanjutan Langkah kedepan akan secepatnya ia kabarkan. Beberapa hal penting Yodha dapatkan dari perbincangan. Kini lebih banyak opsi baginya untuk menyelesaikan persoalan. Setelah beberapa saat berpikir, Yodha meminta Basrie menghubungi Bonie. Ia pikir kehadiran Bonie akan membantu proses penyelesaian persoalan yang tengah dihadapi. Bonie akan menjadi salah satu alibi baginya menepis tuduhan atas keterlibatannya dalam tindakan penyerangan terhadap Raffie. Bagaimanapun caranya, Yodha harus bisa menghadirkan Bonie. Untuk itu, selepas Basrie menghubungi Bonie, Yodha membelokkan arah laju kendaraan seperti yang temannya minta.

Dipersimpangan jalan Handphone berdering. Yodha segera menjawab panggilan begitu tahu siapa yang menghubungi. Ia pastikan kalau dirinya akan langsung menuju tempat, setelah menjemput temannya terlebih dahulu.
Basrie meminta Yodha untuk menepi.

“Biar aku saja yang temui dia”.

Pinta Basrie singkat. 

Basrie bergegas cepat mengayun langkah. Seperti yang Basrie minta, mereka bertemu di depan kios penjual makanan. Selepas bertegur sapa mereka pergi menghampiri mobil Ford Explorer yang terparkir tak jauh dari kios itu barada.

Untuk kesekian kali Lena menoleh ke arah area parkir kendaraan roda empat. Harap cemas ia mengira kemungkinan, datang atau tidak Yodha memenuhi janjinya. Dan hal itu membuat Lena tak lagi fokus terhadap apa yang Raffie maupun Dion perbincangkan. Handphone tak lepas dari genggaman, se-sering mungkin ia pastikan, barangkali ada pesan masuk yang terlewatkan. Raffie perlahan berdiri, melangkah setengah berlari setelah beritahukan Dion dan Lena kemana ia akan pergi.

Rasa cemas terhapus sudah. Orang yang dinanti mulai menampakkan tanda-tanda kedatangannya. Mobil Ford Explorer hitam dengan kaca yang tak lagi tembus pandang melintas memasuki area parkiran. Lena menoleh ke arah mana tadi Raffie pergi. Hatinya bertanya, kenapa ia belum juga kembali.

Diiringi dua teman berjalan disamping kiri dan kananya, Yodha melangkah pasti bagai seorang menteri akan menghadiri acara seremonial kenegaraan. Pandangan lurus ke depan, tak menghiraukan tatap mata para pengunjung rumah makan yang melirik ke arahnya. Lena berdiri, lalu melambaikan tangan. Setelah Yodha datang menghampiri, ia persilahkan untuk mengisi tempat yang telah disediakan.  

Tegur sapa dan senyum hangat mengawali pertemuan mereka disiang hari yang tampak cerah. Lena bernafas lega saat Raffie datang menghampiri, menyalami satu persatu teman yang baru tiba dengan seulas senyum dibibirnya. Raffie duduk sambil memperhatikan seseorang di samping Yodha. Ia ingat kembali orang bermotor yang menyerangnya. Postur tubuh dan sorot matanya mirip sekali dengan orang yang menerjangnya beberapa waktu kebelakang. Sementara itu, Bonie duduk tegap, bersikap tenang, tak menunjukkan sesuatu yang mencurigakan. Namun Raffie membaca gestur dan raut wajah Bonie ketika beradu tatap saat menyalaminya.

Selepas pelayan rumah makan mencatat masing-masing pesanan di nota tagihan yang harus mereka bayar kemudian, Lena membuka perbincangan langsung ke pokok persoalan. Ia meminta Yodha untuk memberi jawaban yang tertunda, sesuai waktu yang dijanjikan.

Mengawali penuturan, Yodha sampaikan alasan kedatangannya bersama dua orang teman. Hal ini ia lakukan karena berkaitan erat dengan pembuktian mengenai ketidakterlibatannya dalam suatu tindakan yang dituduhkan padanya.

Setelah mendapat persetujuan Lena, Raffie dan Dion, Yodha meminta temannya untuk memberi jawaban dan penjelasan atas peratanyaan yang ia ajukan.

Suasana senyap sejenak saat pelayan datang menghidangkan makanan dimeja.
Basrie menyeret kursi maju kedepan, bersiap menerima pertanyaan.     

“Kapan terakhir kali kamu pakai mobilku?”.

Tanya Yodha kemudian. 

Basrie coba memutar ingatan. Setelah merasa yakin, ia sampaikan jawaban.

“Memangnya kenapa Yodh?”.

“Apa terjadi sesuatu dengan mobilmu?”.

Basrie balik bertanya sambil menoleh kearah dimana mobil Yodha di parkirkan. 

Yodha menggelengkan kepala, diikuti penjelasan mengenai kondisi mobilnya. Ia meminta Basrie mengingat kembali, kemana saja waktu itu ia pergunakan.

Basrie memutar kembali ingatan hingga berhenti di satu titik, dimana ia telah menemukan suatu jawaban.  

“Ketika itu saya berkendara bersama Bonie, bermaksud membeli sarapan pagi nasi uduk di seputaran alun-alun kota. Kemudian Bonie permisi pergi saat saya baru memesan makanan. Ia bilang ada janji bertemu temannya. Saya pun menunggu hingga makanan yang dipesan saya habiskan, dan Bonie baru muncul kembali beberapa lama kemudian”.

Se-rinci mungkin Basrie sampaikan semua yang menempel diingatan.

Yodha menyimak penuh harap. Entah apa yang Yodha harapkan dari penuturan Basrie saat itu. Sementara bunyi sirine semakin jelas mendekat, mellintas cepat, kemudian hilang dan kembali senyap. Rupanya kendaraan tahanan kejaksaan membawa para pelaku tindak kejahatan menuju tempat dimana mereka akan disidangkan.  

Lena mencocokkan keterangan yang ia terima mengenai waktu kejadian penyerangan dengan penuturan Basrie. Ia cepat menarik kesimpulan, bahwa pelaku tindakan itu adalah Bonie Cs.
Lena tak dapat membendung amarah. Telunjuknya mengarah ke wajah Bonie. 

“Oh, jadi kamu orangnya yang telah memukuli Raffie?!!”.

Bentak Lena berteriak lantang. 

Semua orang dimeja terperanjat kaget, begitupun orang-orang di sekitar tempat itu. Raffie coba menenangkan. Ia turunkan tangan Lena perlahan, memintanya untuk mengendalikan amarah. Dion mengambil langkah bijak. Ia berikan Bonie kesempatan  untuk menyampaikan penjelasan. Melalui isyarat tangan Yodha mempersilahkan Bonie mengemukakan jawaban. 

“Saya tidak mengerti, ada apa ini sebenarnya?!”.

“Tapi baiklah, akan saya coba sampaikan”.  

Bonie tampak gugup diawal penjelasan. Sejenak menarik nafas panjang, lalu kemudian  melanjutkan pemaparan.

Menurut pengakuannya, pagi itu ia pamit pergi, janji bertemu Erwan dan Didu. Ada hal yang ingin mereka sampaikan padanya waktu itu. Lokasinya tak jauh dari alun-alun kota. Hanya butuh waktu 5 menit paling lama untuk sampai tujuan. Berbincang beberapa saat, dan disela perbincangan Erwan pamit, mohon izin menggunakan kendaraan untuk mengambil sesuatu. 

“Sebentar saja katanya”.

Lanjut Bonie menjelaskan.        

Bonie menutup penuturan dengan kalimat sanggahan jika dirinya tak tahu menahu tentang apa yang Lena tuduhkan padanya.   

Raffie menarik nafas perlahan. Pikirannya menerawang jauh, menduga-duga apa yang baru saja ia saksikan. Terlintas dibenaknya, jika ini semua hanya bagian dari upaya pembenaran atas hal yang telah Yodha lakukan. Raffie merasa ada ketidakberesan dari penjelasan kedua orang dihadapannya. Seperti telah diatur sebelumnya. Harapan terakhir untuk mengungkap peristiwa itu hanya dengan menghadirkan Erwan ditengah-tengah mereka.

Dion minta kesediaan Bonie menghubungi Erwan, berharap ia bersedia untuk datang.  

Sementara itu, sambil merentangkan kedua tangan, pandangan mata lurus kedepan menatap pucuk pohon cemara di seberang jalan, Yodha menarik nafas lega.

Bagaimana ia tidak merasa lega. Yodha pikir penjelasan kedua temannya telah menjauhkan dirinya dari segala tuduhan, yang mungkin saja dikemudian hari bisa menyeretnya  pada persoalan-persoalan hukum diluar kendalinya. Tak terbayangkan, andai saja ia tak dapat membuktikan ketidakterlibatannya dalam tindakan penyerangan terhadap Raffie, maka sudah dapat dipastikan ia akan mendekam di balik jeruji besi, dengan menyandang predikat narapidana.

Bonie mengakhiri panggilan setelah mendapat jawaban. Ia beritahukan, Erwan akan datang jika Yodha memintanya.

Kini semua perhatian tertuju ke satu arah. Yodha menggeser gelas dihadapannya, kemudian meraih handphone dan mulai melakukan panggilan. Raffie dan Lena saling memandang. Dion coba menguping pembicaraan. Sementara Basrie dan Bonie tampak santai menikmati hidangan.
Yodha mengakhiri panggilan dengan kalimat penutup,   

“Oke, aku tunggu kamu disana”.   

Usai saling berpamitan mereka melangkah pergi dengan tujuannya masing-masing. Yodha bergerak cepat bersama kedua temannya. Lena, Raffie dan Dion bersiap pergi menjauh dari tempat pertemuan.

Selepas menyimpan helmet di stang motornya, Dion melangkah perlahan memasuki sebuah mini market. Ketika menoleh ke arah Caffe di seberang jalan, tak sengaja ia melihat Yodha tengah berbincang dengan seseorang. Dion teringat beberapa saat yang lalu, ketika Yodha menghubungi seseorang bernama Erwan dan membuat janji untuk mereka bertemu. Selepas membayar beberapa barang yang ia beli di meja kasir, Dion kembali ke parkiran, berpura-pura memeriksa kondisi mesin di motornya dengan mata tetap mengawasi pergerakan diseberang jalan. Ia yakin laki-laki yang tengah berbincang serius dengan Yodha adalah Erwan, orang yang diceritakan Bonie di tempat mereka bertemu.

Dion menghidupkan motor dan cepat membuntuti kemana Erwan pergi. Beberapa meter dari tikungan jalan, mobil menepi dan berhenti. Seseorang keluar dari pintu pagar rumah, berjalan menghampiri Erwan yang menanti dibelakang kemudi. Setelah berbincang sesaat dan memberikan sesuatu, orang itu kembali masuk kedalam rumah. Tanpa pikir panjang Dion mendatangi Erwan, meminta paksa untuk turun dari kendaraan. Dion mendorong, lalu menekan Erwan hingga tubuhnya tersandar ke mobil. Merasa terdesak situasi sulit yang ia hadapi, akhirnya Erwan pun memberikan jawaban.

“Yodha yang memintaku untuk melakukan itu semua”. Ucap Erwan dengan nafas tersengal.

Dion melepas genggaman di pergelangan tangan Erwan, lalu kemudian membiarkannya pergi setelah memberinya peringatan.

Selanjutnya >>>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sampaikan komentar anda dengan bijak