Translate

Jejak Kita- Bagian 3

Seikat Janji

Dingin menyelimuti sebagian kota kembang pagi itu. Lena bergegas pergi setelah roti bakar yang dipesan  ia terima. Gerak langkahnya  menarik beberapa pasang mata menoleh kearahnya. Sementara hujan belum juga reda saat sampai di pelataran rumah dimana ia tinggal.

Beberapa potong roti bakar dan segelas kopi susu bergantian mengisi perutnya yang kosong. 

Setelah merapikan kamar dan membersihkan diri, dipandangi cermin sambil merapikan pakaian yang ia kenakan. T-shirt putih, celana jeans serta ikat pinggang hitam dan sepatu sport putih di kedua kaki memberi kesan ceria diwajahnya. Ia pilih tas coklat tua untuk menyimpan alat tulis, handphone, dompet dan beberapa barang kecil lainnya.

Langkah kakipun mengayun setapak demi setapak menuruni tangga kayu, lalu bergegas pergi selepas memastikan pintu rumah terkunci dengan benar. 

Angkutan perkotaan berhenti tepat di depan gerbang kampus yang sudah terbuka. Bangku berderet rapi depan koperasi. Sebagian telah terisi para penimba limu yang datang lebih awal disana.

Seseorang melambaikan tangan sembari memanggil satu nama. Lena melempar senyum. Setengah berlari ia menghampiri.

“Mau aku pesankan sesuatu untukmu Len?”. 

Tanya temannya singkat.

“Nggak usah Ren, terima kasih. Aku sudah sarapan sebelum pergi”. 

Jawab Lena menjelaskan semabari menyeka air hujan yang menempel di tas dan lengannya.

Tidak banyak hal mereka bicarakan. Hanya sekilas tentang mata kuliah dan beberapa obrolan pagi lainnya.

Reni adalah salah satu teman terdekat Lena. Kuliah di semester yang sama dan hampir selalu berada disamping Lena saat mengikuti materi perkuliahan. Reni tinggal bersama kedua orang tuanya. Jadi tak perlu merogoh saku guna membayar uang sewa seperti Lena yang datang dari luar kota. 

Raffie mengayun langkah dengan gelas kopi ditangan. Sejenak langkah itu terhenti saat matanya beradu pandang dengan wanita tak jauh dari sana. Ada sekilas senyum. Raffie balas sehangat mungkin.

“Lena…”. 

Umpatnya dalam hati.

Jantung berdetak tak biasa saat ia mendekat. Hal yang sama Lena rasakan ketika langkah semakin tak berjarak darinya.
Gelas kopi ia letakkan dimeja. Sapa hangat ia tujukan pada dua wanita yang tengah duduk santai disana.

“Apa aku mengganggu kalian?”. 

Lanjutnya kemudian.

Reni cepat menimpali, sebelum Lena memberi jawaban. Tanpa brpikir panjang ia bergegas pamitan.
Raffie beranjak dari tempat, meminta Reni tetap disana. Reni pun tersenyum. Ia tetap melangkah pergi dengan lambaian jemari tangannya.  
Sebagai pemecah kebisuan, Raffie membuka obrolan dengan tanya, aktifitas apa yang akan dilakukan Lena hari itu.

“Aku belum ada rencana lain selain mengikuti perkuliahan hari ini. Dan setelah itu, mungkin aku langsung pulang”. 

Jawab Lena singkat.

Raffie mengambil gelas kopi, lalu meneguknya perlahan. Ia coba mengartikan kata “mungkin” yang Lena sampaikan padanya. Mungkinkah ia membuka peluang untuk berbagi rencana baru dengannya, atau ada kemungkinan lain yang ia pertimbangkan diluar perkiraannya.
Raffie cepat mengambil sikap. Ia tak mau terpaku perkiraan-perkiraan yang belum tentu kebenarannya. Raffie sampaikan maksud untuk mengajak Lena menyaksikan live Music Accoustic di suatu tempat selepas jadwal perkuliahan selesai. Gayung pun bersambut. Lena tak menolak ajakan. Ia sampaikan kesediaannya dengan menyelipkan senyuman diantara kalimat jawaban.
Raffie mengerti arti senyuman itu. Tersirat bahagia, juga rasa Lega mendengar jawaban sesuai harapan. 
Jadwal dimulai perkuliahan hanya tersisa beberapa menit kedepan. Lena melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan. Andai masih banyak waktu, ingin rasanya melanjutkan obrolan. Usai berpamitan, Lena melangkah pergi. Ia lemparkan isyarat setuju untuk bertemu kembali di tempat itu seusai perkuliahan selesai.

Dion datang menghampiri selepas Lena melangkah pergi. Raffie mengurungkan niat beranjak dari tempat semula.

“Ada jam kuliah hari ini Di?”. 

Tanya Rafiie.

“Iya Fie”. 

Jawan Dion singkat. 

Ia lepaskan tas gendong dari punggungnya, kemudian melangkah pergi dan cepat kembali dengan gelas minuman serta bungkus makanan ditangannya.
Hujan mulai reda. Raffie mengajak Dion untuk berpindah tempat. Setelah sepakat tempat mana yang akan mereka tuju, keduanya bergegas pergi. 

Selanjutnya >>>


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sampaikan komentar anda dengan bijak