Seikat Janji
Dingin
menyelimuti sebagian kota kembang pagi itu. Lena bergegas pergi setelah roti
bakar yang dipesan ia terima. Gerak langkahnya menarik beberapa
pasang mata menoleh kearahnya. Sementara hujan belum juga reda saat sampai di
pelataran rumah dimana ia tinggal.
Beberapa potong roti bakar dan segelas kopi susu bergantian
mengisi perutnya yang kosong.
Setelah
merapikan kamar dan membersihkan diri, dipandangi cermin sambil merapikan pakaian
yang ia kenakan. T-shirt putih, celana jeans serta ikat pinggang hitam dan
sepatu sport putih di kedua kaki memberi kesan ceria diwajahnya. Ia pilih tas
coklat tua untuk menyimpan alat tulis, handphone, dompet dan beberapa barang
kecil lainnya.
Langkah kakipun mengayun setapak demi setapak menuruni tangga
kayu, lalu bergegas pergi selepas memastikan pintu rumah terkunci dengan
benar.
Angkutan perkotaan berhenti tepat di depan gerbang kampus yang
sudah terbuka. Bangku berderet rapi depan koperasi. Sebagian telah terisi para
penimba limu yang datang lebih awal disana.
Seseorang melambaikan tangan sembari memanggil satu nama. Lena
melempar senyum. Setengah berlari ia menghampiri.
“Mau aku pesankan sesuatu untukmu Len?”.
Tanya temannya singkat.
“Nggak usah Ren, terima kasih. Aku sudah sarapan sebelum pergi”.
Jawab Lena menjelaskan semabari menyeka air hujan yang menempel di tas dan
lengannya.
Tidak banyak hal mereka bicarakan. Hanya sekilas tentang mata
kuliah dan beberapa obrolan pagi lainnya.
Reni adalah
salah satu teman terdekat Lena. Kuliah di semester yang sama dan hampir selalu
berada disamping Lena saat mengikuti materi perkuliahan. Reni tinggal bersama
kedua orang tuanya. Jadi tak perlu merogoh saku guna membayar uang sewa seperti
Lena yang datang dari luar kota.
Raffie mengayun langkah dengan gelas kopi ditangan. Sejenak
langkah itu terhenti saat matanya beradu pandang dengan wanita tak jauh dari
sana. Ada sekilas senyum. Raffie balas sehangat mungkin.
“Lena…”.
Umpatnya dalam hati.
Jantung berdetak tak biasa saat ia mendekat. Hal yang sama Lena
rasakan ketika langkah semakin tak berjarak darinya.
Gelas kopi ia letakkan dimeja. Sapa hangat ia tujukan pada dua
wanita yang tengah duduk santai disana.
“Apa aku mengganggu kalian?”.
Lanjutnya kemudian.
Reni cepat menimpali, sebelum Lena memberi jawaban. Tanpa brpikir
panjang ia bergegas pamitan.
Raffie beranjak dari tempat, meminta Reni tetap disana. Reni pun
tersenyum. Ia tetap melangkah pergi dengan lambaian jemari
tangannya.
Sebagai pemecah kebisuan, Raffie membuka obrolan dengan tanya,
aktifitas apa yang akan dilakukan Lena hari itu.
“Aku belum ada rencana lain selain mengikuti perkuliahan hari ini.
Dan setelah itu, mungkin aku langsung pulang”.
Jawab Lena singkat.
Raffie mengambil gelas kopi, lalu meneguknya perlahan. Ia coba
mengartikan kata “mungkin” yang Lena sampaikan padanya. Mungkinkah ia membuka
peluang untuk berbagi rencana baru dengannya, atau ada kemungkinan lain yang ia
pertimbangkan diluar perkiraannya.
Raffie cepat mengambil sikap. Ia tak mau terpaku
perkiraan-perkiraan yang belum tentu kebenarannya. Raffie sampaikan maksud
untuk mengajak Lena menyaksikan live Music Accoustic di suatu tempat selepas
jadwal perkuliahan selesai. Gayung pun bersambut. Lena tak menolak ajakan. Ia
sampaikan kesediaannya dengan menyelipkan senyuman diantara kalimat jawaban.
Raffie mengerti arti senyuman itu. Tersirat bahagia, juga rasa
Lega mendengar jawaban sesuai harapan.
Jadwal dimulai perkuliahan hanya tersisa beberapa menit kedepan.
Lena melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan. Andai masih
banyak waktu, ingin rasanya melanjutkan obrolan. Usai
berpamitan, Lena melangkah pergi. Ia lemparkan isyarat setuju untuk
bertemu kembali di tempat itu seusai perkuliahan selesai.
Dion datang
menghampiri selepas Lena melangkah pergi. Raffie mengurungkan niat beranjak
dari tempat semula.
“Ada jam kuliah hari ini Di?”.
Tanya Rafiie.
“Iya Fie”.
Jawan Dion singkat.
Ia lepaskan tas gendong dari
punggungnya, kemudian melangkah pergi dan cepat kembali dengan gelas minuman
serta bungkus makanan ditangannya.
Hujan mulai reda. Raffie mengajak Dion untuk berpindah tempat.
Setelah sepakat tempat mana yang akan mereka tuju, keduanya bergegas
pergi.
Selanjutnya >>>
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Sampaikan komentar anda dengan bijak