Kesungguhan
Senja
beranjak pergi ketika malam datang menjelang. Raffie terbaring sendiri menahan
dingin, meski selimut tebal menutupi sekujur tubuh. Diatas sana Kerlip bintang
dan cahaya bulan tertutup awan hitam. Angin berhembus kencang, menyapu
daun-daun kering hingga berterbangan. Raffie menggigil, mendekap erat tubuhnya
sendiri melawan rasa dingin sekuat tenaga. Malam tampak mencekam ketika deras
hujan turun disertai kilatan petir yang seakan tak henti menyambar. Raffie
memaksakan diri beranjak, mengambil sebutir pil dan segelas air, berharap
banyak mampu meredakan demam dan sakit yang ia rasakan dikepalanya.
Efek obat mulai bekerja beberapa lama kemudian. Rasa kantuk pun perlahan mengantarkan Raffie terlelap tidur hingga pagi datang menjelang.
Bising
knalpot, dan bunyi klakson kendaraan dijalanan membuatnya beranjak perlahan,
menepis rasa enggan untuk membuka jendela kamar dan mematikan lampu yang masih
menyala. Pagi ini tak ada seduhan kopi hitam seperti biasa ia nikmati. Hanya
tersisa air mineral dalam kemasan, dan sebungkus makanan ringan yang tergeletak
begitu saja diatas meja. Meski tak berselera, Raffie tak ingin membiarkan rasa
lapar membelenggu. Tubuhnya harus bertenaga untuk beraktivitas seharian penuh.
Suplemen makanan pun ia konsumsi setelah berganti pakaian tanpa membersihkan
diri terlebih dahulu. Dengan mengoleskan deodorant dan menyemprtokan sedikit
parfum saja, ia rasa cukup memberi kesegaran baginya. Janji
Raffie untuk bertemu Lena hari ini tak mungkin ia lewatkan. Dengan berniat
lebih awal datang meski tak ada jadwal kuliah pagi, Raffie bergegas menuntun
motornya sampai halaman depan, kemudian menghidupkan mesinnya, lalu berangkat
pergi.
Di pertigaan jalan Raffie menepi ketika pengendara motor di
belakangnya membunyikan klakson beberapa kali untuknya. Ia pikir siapa.
Ternyata Dion, yang sejak melihatnya melintas terus membuntuti dan meminta
Raffie untuk menepi. Setelah berbincang sesaat, mereka pun ber-iringan
pergi. Tak ada hambatan berarti yang membuat laju motor mereka sampai ditujuan.
Rasa sakit di
kepala membuat Raffie limbung saat berjalan. Terdiam sejenak dengan kedua
tangan di jok motor, guna menahan beban tubuh agar tak terjatuh. Dion cepat
memegangi pundak Raffie sambil menanyakan apa yang terjadi. Raffie memohon agar
Dion memapahnya berjalan meniti anak tangga sampai terduduk di bangku halaman
koperasi. Segelas air hangat Dion sodorkan untuk Raffie menelan sebutir pil
yang diambil dari saku tas gendongnya. Tanpa mereka sadari Lena datang
menghampiri. Dion menoleh kearah dimana Lena berdiri saat menanyakan apa yang
terjadi. Setelah tahu kondisi Raffie, Lena menyarankan agar mereka membawanya
pergi ke rumah sakit terdekat.
Raffie terbaring lemas diruang perawatan sebuah rumah sakit swasta, setelah petugas medis di ruangan Instalasi Gawat Darurat (IGD) merekomendasikannya untuk menjalani rawat inap. Matanya perlahan terbuka, menatap sekeliling tempat dimana ia berada. Selang infusan dan jarum yang menancap di lengan membuat ia tersadar jika dirinya kini tengah berada dimana. Perawat medis datang menghampiri diikuti Lena dan Dion yang sejak tadi menunggu di luar. Setelah memastikan kondisi pasiennya, ia beritahukan bahwa Raffie akan baik-baik saja.
“Dia hanya butuh istirahat yang cukup. Kemungkinan besok atau
lusa sudah boleh pulang”.
Ucap perawat memberi penjelasan, sebelum ia pergi.
Hilang sudah kekhawatiran Dion dan terutama Lena mendengar
informasi dari perawat medis megenai kondisi Raffie saat ini.
Menjelang malam tiba, Raffie meminta Dion untuk mengantarkan Lena
pulang untuknya, dengan alasan ingin memastikan Lena sampai di rumah dengan
selamat. Karena tak ingin Raffie mengkhawatirkan dirinya, Lena pun menuruti apa
kemauannya. Selepas berpamitan, mereka pun melangkah pergi.
Seperti biasa, suasana malam hari di jalan raya menjelang akhir pekan ramai dipadati para pengendara, baik motor maupun mobil dan media transportasi lainnya. Beragam jenis kendaraan yang datang dari berbagai kota, tak ingin ketinggalan meramaikan kota kembang, dengan masing-masing tujuan kunjungannya ke tempat-tempat wisata yang bertebaran menawarkan pesona. Kelompok pengamen jalanan yang senantiasa setia menyuguhkan hiburan di area lampu merah dan tempat penjual aneka makanan, memberi warna tersendiri pada kehidupan kota Paris Van Java dari dulu hingga sekarang. Tumpah ruah pengunjung tempat perbelanjaan, membuat Dion harus rela bergerak lambat dan sesekali menghentikan laju motornya. Setelah melintasi pertigaan jalan, tiba juga mereka di tujuan. Dion menerima helmet yang Lena berikan sambil mencari tahu siapa orang yang berdiri di depan pagar halaman. Lena menoleh ke arah yang Dion maksudkan untuk memastikan, apakah ia mengenalinya atau tidak. Awal mula ia mengira, mungkin teman dari teman satu kostan-nya. Tapi setelah yakin itu adalah orang yang dikenalinya, Lena pun memberitahukan Dion apa adanya.
“Oh.., itu Gun Gun, teman kuliah satu jurusan deganku”.
Ucap Lena menjelaskan.
Sebenarnya Dion ingin tahu lebih banyak mengenai orang itu. Namun
setelah di pertimbangkan kembali, ia lebih memilih untuk mohon pamit dan segera
pergi.
Sementara
itu, sekedar menghilangkan kepenatan, Raffie membuka handphone-nya untuk
memeriksa, barangkali ada pesan yang belum terbaca. Entah bagaimana
awalnya, tiba-tiba saja terbayang wajah Lena dengan senyum hangatnya yang
membuat Raffie merasa hidup ini bermakna. Teringat tentang apa saja yang ia
katakan saat bersamanya. Cara dia tersenyum, bersikap dan membangkitkan
semangat, menjadi harapan baginya untuk mendapatkan perhatian lebih dari hanya
sekedar teman. Sejuk tatapan matanya sulit dipungkiri, jika ia sosok wanita
yang tak mudah untuk dilupakan. Namun demikian Raffie tak ingin terlalu jauh
berangan-angan. Ia tepis khayalan sebelum melambung tinggi di atas awan,
menuntun kembali lamunan menuju alam nyata, dimana realita menjadi hal utama
untuk dijalani. Dan bintang-bintang pun berkedip, seakan mengerti yang
tersirat. Dia berbisik pada bulan tentang kerinduan yang Raffie sembunyikan di
lubuk hati.
Bunyi langkah
kaki semakin jelas terdengar ketika seseorang bergerak mendekat. Raffie menoleh
ke arah pintu yang berderit saat perlahan terbuka. Dion datang menghampiri,
lalu meletakkan sesuatu di atas lemari kecil tak jauh dari tempat Raffie
terbaring. Raffie membiarkan temannya menarik nafas terlebih dahulu sebelum ia
menanyai kabar tentangnya. Dion tak menunda lebih lama untuk menyampaikan apa
saja yang ia alami selama diperjalanan, baik saat berangkat maupun
perjalanannya kembali menuju rumah sakit. Namun Dion sengaja melewatkan
sesuatu. Ia tak ingin Raffie tahu, apa yang dijumpainya ketika mengantar Lena
ke tempat tinggalnya. Dion khawatir jika hal itu ia sampaikan, akan
mempengaruhi kondisi kesehatannya. Disela perbincangan, seorang perawat datang
guna memastikan peralatan medis berfungsi dengan baik. Setelah memeriksa cairan
infusan, ia pun melangkah pergi.
Pagi pun datang
menjelang. Tak terdengar bunyi kokok ayam jantan dan suara penjual makanan
keliling yang biasa Raffie jumpai di sekitar rumah kost-annya. Dion pamit pergi
karena harus mengikuti kuliah pagi. Ia tak ingin lagi memulai masalah dengan
pemberi materi, hanya karena terlambat datang, dan Raffie bisa mengerti apa
yang Dion sampaikan padanya.
Suasana hening sejenak selepas Dion berangkat. Selang beberapa
lama kemudian, asisten dokter datang guna memeriksa perkembangan kondisi
pasiennya. Raffie bersyukur, tensi darahnya stabil dan normal untuk ukuran
seusianya. Menurut keterangan asister dokter yang memeriksanya, tak ada sesuatu
yang perlu dikhawatirkan. Kondisi kesehatannya jauh lebih baik dibanding ketika
ia baru datang, dan kemungkinan besar hari ini paling cepat, atau lambatnya
besok pagi ia sudah boleh pulang. Asisten dokter menyarankan agar Raffie mulai
membiasakan diri untuk makan secara teratur, dan istirahat secukupnya, juga tidak
memaksakan diri melakuan aktivitas yang menguras tenaga dan pikiran. Tak satu kalimat
sanggahan pun Raffie lontarkan atas saran yang ia terima. Satu butir
pil ia konsumsi setelah asisten dokter pergi, dan dua butir pil lainnya dalam
plastik bertuliskan namanya ia simpan untuk diminum setelah makan.
Seperti saran petugas medis, Raffie segera menyantap apa yang
petugas rumah sakit berikan sebagai sarapan pagi untuknya.
Matahari semakin meninggi. Teriknya akan jelas terasa jika berada di luar sana. Awan hitam berarak perlahan, menggumpal diketinggian. Mendung pun datang. Deras hujan tak lama berselang tercurah tumpah ke segala arah. Lena berlari, menuju tempat dimana ia bisa berlindung dari guyuran hujan yang terlanjur membasahinya. Ramah senyum petugas keamanan rumah sakit, dengan payung terbuka menawarkan diri untuk mengantarkan Lena hingga pintu masuk utama. Setelah menerima kartu tanda pengunjung, Lena bergegas menuju ruang perawatan. Salam sapa sekaligus menjadi pembuka obrolannya, ketika ia menjumpai Raffie yang tengah sendiri tanpa siapapun disana. Bagi Raffie, kedatangan Lena menjadi motivasi tersendiri terhadap pemulihan kondisi kesehatannya. Ia tak lagi menyia-nyiakan waktu yang ada. Pikirnya, telah cukup waktu baginya untuk mengungkapkan isi hati yang telah lama ia simpan. Jika harus kecewa, lebih baik sekarang ia terima, daripada nanti dikemudian hari akan terasa lebih menyakitkan. Jujur ia katakan, bahwa kebersamaannya selama ini akan lebih berarti, seandainya ada pernyataan ikatan saling memiliki, hingga hari-hari kedepan akan terbuka jalan untuk saling menjaga perasaan, saling berbagi hal tanpa ragu lagi dengan status hubungan yang mereka jalani. Lena tertunduk sejenak, memainkan jemari tangan, kemudian menatap Raffie penuh arti.
“Aku mau bisa berbagi denganmu. Sungguh aku juga bersedia menjadi
apa yang kamu minta, karena aku pun merasakan hal yang sama seperti
apa yang kamu rasakan saat ini. Hanya saja aku masih merasa takut. Aku tak mau
kehilangan orang yang memiliki arti dalam hidupku untuk kedua kalinya. Rasanya
begitu menyakitkan Fie”.
Sambil menunduk lirih, Lena mengungkapkan isi hati.
Perasaan bahagia dan sedih bercampur menjadi satu bagian yang tak
terpisahkan.
Sepenuh hati Raffie menghapus air mata yang mengalir dari kelopak mata dan membasahi pipi Lena dengan kelembutan hatinya.
“Aku tak pernah berniat untuk menyakitimu. Aku hanya berharap bisa memiliki hatimu selama yang kamu mau. Dan satu hal yang perlu kamu tahu dariku, aku tak akan pernah mampu untuk menyakiti perasaanmu. Bagiku, kejujuranmu terlalu berharga untuk dikhianati. Ketulusanmu terlalu berarti untuk dilukai. Saat ini aku hanya bisa berjanji untuk selalu menjaga kepercayaan yang kau berikan padaku. Dan aku berharap sebisa mungkin, aku akan selalu ada disaat kamu membutuhkan aku”.
Raffie mengakhiri kalimat pernyataannya dengan menggenggam jemari tangan Lena, lalu menciumnya penuh perasaan.
Lena dan Raffie serentak menoleh kearah datangnya suara berdehem, menyusul kemudian seorang dokter dan asistennya yang menangani Raffie muncul dari balik tirai. Dion tak ingin ketinggalan, mengukuti keduanya, mengerlingkan mata, lalu tersenyum menggoda. Dokter dan asistennya pun tersenyum, menyaksikan mereka saling menggenggam tangan. Setelah memeriksa dan memastikan kondisi kesehatan Raffie, dokter menyampaikan bahwa dengan kondisi Raffie saat ini, ia sudah diperbolehkan untuk pulang hari ini juga.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Sampaikan komentar anda dengan bijak