Translate

Jejak Kita - Bagian 8

Kesungguhan

Senja beranjak pergi ketika malam datang menjelang. Raffie terbaring sendiri menahan dingin, meski selimut tebal menutupi sekujur tubuh. Diatas sana Kerlip bintang dan cahaya bulan tertutup awan hitam. Angin berhembus kencang, menyapu daun-daun kering hingga berterbangan. Raffie menggigil, mendekap erat tubuhnya sendiri melawan rasa dingin sekuat tenaga. Malam tampak mencekam ketika deras hujan turun disertai kilatan petir yang seakan tak henti menyambar. Raffie memaksakan diri beranjak, mengambil sebutir pil dan segelas air, berharap banyak mampu meredakan demam dan sakit yang ia rasakan dikepalanya.

Efek obat mulai bekerja beberapa lama kemudian. Rasa kantuk pun perlahan mengantarkan Raffie terlelap tidur hingga pagi datang menjelang.

Bising knalpot, dan bunyi klakson kendaraan dijalanan membuatnya beranjak perlahan, menepis rasa enggan untuk membuka jendela kamar dan mematikan lampu yang masih menyala. Pagi ini tak ada seduhan kopi hitam seperti biasa ia nikmati. Hanya tersisa air mineral dalam kemasan, dan sebungkus makanan ringan yang tergeletak begitu saja diatas meja. Meski tak berselera, Raffie tak ingin membiarkan rasa lapar membelenggu. Tubuhnya harus bertenaga untuk beraktivitas seharian penuh. Suplemen makanan pun ia konsumsi setelah berganti pakaian tanpa membersihkan diri terlebih dahulu. Dengan mengoleskan deodorant dan menyemprtokan sedikit parfum saja, ia rasa cukup memberi kesegaran baginya.   Janji Raffie untuk bertemu Lena hari ini tak mungkin ia lewatkan. Dengan berniat lebih awal datang meski tak ada jadwal kuliah pagi, Raffie bergegas menuntun motornya sampai halaman depan, kemudian menghidupkan mesinnya, lalu berangkat pergi. 

Di pertigaan jalan Raffie menepi ketika pengendara motor di belakangnya membunyikan klakson beberapa kali untuknya. Ia pikir siapa. Ternyata Dion, yang sejak melihatnya melintas terus membuntuti dan meminta Raffie untuk menepi. Setelah berbincang sesaat, mereka pun ber-iringan pergi. Tak ada hambatan berarti yang membuat laju motor mereka sampai ditujuan.

Rasa sakit di kepala membuat Raffie limbung saat berjalan. Terdiam sejenak dengan kedua tangan di jok motor, guna menahan beban tubuh agar tak terjatuh. Dion cepat memegangi pundak Raffie sambil menanyakan apa yang terjadi. Raffie memohon agar Dion memapahnya berjalan meniti anak tangga sampai terduduk di bangku halaman koperasi. Segelas air hangat Dion sodorkan untuk Raffie menelan sebutir pil yang diambil dari saku tas gendongnya. Tanpa mereka sadari Lena datang menghampiri. Dion menoleh kearah dimana Lena berdiri saat menanyakan apa yang terjadi. Setelah tahu kondisi Raffie, Lena menyarankan agar mereka membawanya pergi ke rumah sakit terdekat.


Raffie terbaring lemas diruang perawatan sebuah rumah sakit swasta,  setelah petugas medis di ruangan Instalasi Gawat Darurat (IGD) merekomendasikannya untuk menjalani rawat inap. Matanya perlahan terbuka, menatap sekeliling tempat dimana ia berada. Selang infusan dan jarum yang menancap di lengan membuat ia tersadar jika dirinya kini tengah berada dimana. Perawat medis datang menghampiri diikuti Lena dan Dion yang sejak tadi menunggu di luar. Setelah memastikan kondisi pasiennya, ia beritahukan bahwa Raffie akan baik-baik saja. 

“Dia hanya butuh istirahat yang cukup. Kemungkinan besok atau lusa sudah boleh pulang”.

Ucap perawat memberi penjelasan, sebelum ia pergi.  

Hilang sudah kekhawatiran Dion dan terutama Lena mendengar informasi dari perawat medis megenai kondisi Raffie saat ini.

Menjelang malam tiba, Raffie meminta Dion untuk mengantarkan Lena pulang untuknya, dengan alasan ingin memastikan Lena sampai di rumah dengan selamat. Karena tak ingin Raffie mengkhawatirkan dirinya, Lena pun menuruti apa kemauannya. Selepas berpamitan, mereka pun melangkah pergi.

Seperti biasa, suasana malam hari di jalan raya menjelang akhir pekan ramai dipadati para pengendara, baik motor maupun mobil dan media transportasi lainnya. Beragam jenis kendaraan yang datang dari berbagai kota, tak ingin ketinggalan meramaikan kota kembang, dengan masing-masing tujuan kunjungannya ke tempat-tempat wisata yang bertebaran menawarkan pesona. Kelompok pengamen jalanan yang senantiasa setia menyuguhkan hiburan di area lampu merah dan tempat penjual aneka makanan, memberi warna tersendiri pada kehidupan kota Paris Van Java dari dulu hingga sekarang. Tumpah ruah pengunjung tempat perbelanjaan, membuat Dion harus rela bergerak lambat dan sesekali menghentikan laju motornya. Setelah melintasi pertigaan jalan, tiba juga mereka di tujuan. Dion menerima helmet yang Lena berikan sambil mencari tahu siapa orang yang berdiri di depan pagar halaman. Lena menoleh ke arah  yang Dion maksudkan untuk memastikan,  apakah ia mengenalinya atau tidak. Awal mula ia mengira, mungkin teman dari teman satu kostan-nya. Tapi setelah yakin itu adalah orang yang dikenalinya, Lena pun memberitahukan Dion apa adanya. 

“Oh.., itu Gun Gun, teman kuliah satu jurusan deganku”.

Ucap Lena menjelaskan.  

Sebenarnya Dion ingin tahu lebih banyak mengenai orang itu. Namun setelah di pertimbangkan kembali, ia lebih memilih untuk mohon pamit dan segera pergi.

Sementara itu, sekedar menghilangkan kepenatan, Raffie membuka handphone-nya untuk memeriksa, barangkali ada pesan yang belum  terbaca. Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba saja terbayang wajah Lena dengan senyum hangatnya yang membuat Raffie merasa hidup ini bermakna. Teringat tentang apa saja yang ia katakan saat bersamanya. Cara dia tersenyum, bersikap dan membangkitkan semangat, menjadi harapan baginya untuk mendapatkan perhatian lebih dari hanya sekedar teman. Sejuk tatapan matanya sulit dipungkiri, jika ia sosok wanita yang tak mudah untuk dilupakan. Namun demikian Raffie tak ingin terlalu jauh berangan-angan. Ia tepis khayalan sebelum melambung tinggi di atas awan, menuntun kembali lamunan menuju alam nyata, dimana realita menjadi hal utama untuk dijalani. Dan bintang-bintang pun berkedip, seakan mengerti yang tersirat. Dia berbisik pada bulan tentang kerinduan yang Raffie sembunyikan di lubuk hati.

Bunyi langkah kaki semakin jelas terdengar ketika seseorang bergerak mendekat. Raffie menoleh ke arah pintu yang berderit saat perlahan terbuka. Dion datang menghampiri, lalu meletakkan sesuatu di atas lemari kecil tak jauh dari tempat Raffie terbaring. Raffie membiarkan temannya menarik nafas terlebih dahulu sebelum ia menanyai kabar tentangnya. Dion tak menunda lebih lama untuk menyampaikan apa saja yang ia alami selama diperjalanan, baik saat berangkat maupun perjalanannya kembali menuju rumah sakit. Namun Dion sengaja melewatkan sesuatu. Ia tak ingin Raffie tahu, apa yang dijumpainya ketika mengantar Lena ke tempat tinggalnya. Dion khawatir jika hal itu ia sampaikan, akan mempengaruhi kondisi kesehatannya. Disela perbincangan, seorang perawat datang guna memastikan peralatan medis berfungsi dengan baik. Setelah memeriksa cairan infusan, ia pun melangkah pergi.

Pagi pun datang menjelang. Tak terdengar bunyi kokok ayam jantan dan suara penjual makanan keliling yang biasa Raffie jumpai di sekitar rumah kost-annya. Dion pamit pergi karena harus mengikuti kuliah pagi. Ia tak ingin lagi memulai masalah dengan pemberi materi, hanya karena terlambat datang, dan Raffie bisa mengerti apa yang Dion sampaikan padanya.

Suasana hening sejenak selepas Dion berangkat. Selang beberapa lama kemudian, asisten dokter datang guna memeriksa perkembangan kondisi pasiennya. Raffie bersyukur, tensi darahnya stabil dan normal untuk ukuran seusianya. Menurut keterangan asister dokter yang memeriksanya, tak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Kondisi kesehatannya jauh lebih baik dibanding ketika ia baru datang, dan kemungkinan besar hari ini paling cepat, atau lambatnya besok pagi ia sudah boleh pulang. Asisten dokter menyarankan agar Raffie mulai membiasakan diri untuk makan secara teratur, dan istirahat secukupnya, juga tidak memaksakan diri melakuan aktivitas yang menguras tenaga dan pikiran. Tak satu kalimat sanggahan  pun Raffie lontarkan atas saran yang ia terima. Satu butir pil ia konsumsi setelah asisten dokter pergi, dan dua butir pil lainnya dalam plastik bertuliskan namanya ia simpan untuk diminum setelah makan.

Seperti saran petugas medis, Raffie segera menyantap apa yang petugas rumah sakit berikan sebagai sarapan pagi untuknya.

Matahari semakin meninggi. Teriknya akan jelas terasa jika berada di luar sana. Awan hitam berarak perlahan, menggumpal diketinggian. Mendung pun datang. Deras hujan tak lama berselang tercurah tumpah ke segala arah. Lena berlari, menuju tempat dimana ia bisa berlindung dari guyuran hujan yang terlanjur membasahinya. Ramah senyum petugas keamanan rumah sakit,  dengan payung terbuka menawarkan  diri untuk mengantarkan Lena hingga pintu masuk utama. Setelah menerima kartu tanda pengunjung, Lena bergegas menuju ruang perawatan. Salam sapa sekaligus menjadi pembuka obrolannya, ketika ia menjumpai Raffie yang tengah sendiri tanpa siapapun disana. Bagi Raffie, kedatangan Lena menjadi motivasi tersendiri terhadap pemulihan kondisi kesehatannya. Ia tak lagi menyia-nyiakan waktu yang ada. Pikirnya, telah cukup waktu baginya untuk mengungkapkan isi hati yang telah lama ia simpan. Jika harus kecewa, lebih baik sekarang ia terima, daripada nanti dikemudian hari akan terasa lebih menyakitkan. Jujur ia katakan, bahwa kebersamaannya selama ini akan lebih berarti, seandainya ada pernyataan ikatan saling memiliki, hingga hari-hari kedepan akan terbuka jalan untuk saling menjaga perasaan, saling berbagi hal tanpa ragu lagi dengan status hubungan yang mereka jalani. Lena tertunduk sejenak, memainkan jemari tangan, kemudian menatap Raffie penuh arti. 

“Aku mau bisa berbagi denganmu. Sungguh aku juga bersedia menjadi apa yang kamu minta,  karena aku pun merasakan hal yang sama seperti apa yang kamu rasakan saat ini. Hanya saja aku masih merasa takut. Aku tak mau kehilangan orang yang memiliki arti dalam hidupku untuk kedua kalinya. Rasanya begitu menyakitkan Fie”.

Sambil menunduk lirih, Lena mengungkapkan isi hati. 

Perasaan bahagia dan sedih bercampur menjadi satu bagian yang tak terpisahkan.

Sepenuh hati Raffie menghapus air mata yang mengalir dari kelopak mata dan membasahi pipi Lena dengan kelembutan hatinya. 

 Kesungguhan Cinta >>>

“Aku tak pernah berniat untuk menyakitimu. Aku hanya berharap bisa memiliki hatimu selama yang kamu mau. Dan satu hal yang perlu kamu tahu dariku, aku tak akan pernah mampu untuk menyakiti perasaanmu. Bagiku, kejujuranmu terlalu berharga untuk dikhianati. Ketulusanmu terlalu berarti untuk dilukai. Saat ini aku hanya bisa berjanji untuk selalu menjaga kepercayaan yang kau berikan padaku. Dan aku berharap sebisa mungkin, aku akan selalu ada disaat kamu membutuhkan aku”. 

Raffie mengakhiri kalimat pernyataannya dengan menggenggam jemari tangan Lena, lalu  menciumnya penuh perasaan. 

Lena dan Raffie serentak menoleh kearah datangnya suara berdehem, menyusul kemudian seorang dokter dan asistennya yang menangani Raffie muncul dari balik tirai. Dion tak ingin ketinggalan, mengukuti keduanya, mengerlingkan mata, lalu tersenyum menggoda. Dokter dan asistennya pun tersenyum, menyaksikan mereka saling menggenggam tangan. Setelah memeriksa dan memastikan kondisi kesehatan Raffie, dokter  menyampaikan bahwa dengan kondisi Raffie saat ini, ia sudah diperbolehkan untuk pulang hari ini juga. 

Selanjutnya >>>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sampaikan komentar anda dengan bijak