Sepeda motor
berjejer panjang diparkiran. Lena merapikan rambut dengan kedua tangannya
setelah melepas helmet yang ia kenakan. Raffie berjalan perlahan menuntun arah
kemana langkah merekan akan tertuju.
Cahaya lampu diruang pertunjukan meredup saat lagu mengalun pilu,
bercerita tentang rindu yang tak terbalaskan. Para penikmat untaian nada hanyut
terbawa, hingga larut kedalamnya. Tak ada senyum, tak satu pun kata terucap,
hanya diam semua menatap. Tepuk tangan riuh terdengar, ending musik berujungkan
kalimat.
Raffie tak sanggup berdiskusi dengan waktu. Ia sadar harus bersahabat dengan etika. Bukan saat yang tepat baginya untuk berdebat. Sikap egois sudah semestinya mengalah pada bijak.
Untuk mendapat tempat dihati Lena, banyak hal harus Raffie
pertimbagkan. Cara terbaik saat ini hanya menghargai waktu kebersamaan
dengannya.
Beberapa langkah kedepan larut malam akan tiba. Raffie tak mau
terjebak situasi yang akan menghambat upayanya. Sebelum pertunjukan usai
digelar, ramah pintanya mengajak Lena untuk pulang.
Ini kali kedua ia pergi bersamanya. Tapi sikap Lena padanya masih
dirasa biasa-biasa saja.
Di depan
pagar halaman, ia matikan mesin kendaraan roda duanya, menepis halus
ajakan Lena untuk mampir meski hanya sebentar saja, kemudian pamit pergi dan
berlalu.
Bukan tak mau Raffie menyambung waktu kebersamaan, tapi ia sadar
harus lebih mengedepankan etika. Citra baik Lena selama ini ia utamakan
lebih dari kepentingannya.
Raffie terpaksa menaikkan sepeda motor keatas trotoar. berlindung
di halte bis kota dari curah hujan yang turun tiba-tiba. Ramah senyum ia sapa
pria didekatnya. Menunggu reda mereka lewatkan dengan saling berbicara.
Tak terasa
setengah jam sudah ia menunda perjalanan menuju arah pulang. Waktu telah
menunjukkan pukul dua belas lebih lima saat ia tanyakan pada pria yang masih
bersamanya. Lampu penerangan di pertigaan jalan mendadak padam. Bingkainya
pecah berserakan dijalan raya. Rupanya tertimpa batang pohon yang patah. Hujan
deras dan angin kencang memaksa Raffie tetap bertahan, menunda lebih lama baginya
untuk melanjutkan perjalanan.
Setiba
ditujuan, Raffie bergegas melepas pakaian. Menyambar handuk, lalu pergi
membersihkan diri.
Selepas mandi, untuk sekedar penghilang rasa lapar, ia habiskan
makanan ringan yang tersisa di kamar. Segelas air putih ia teguk perlahan,
kemudian bersantai sejenak di pembaringan hingga terlelap saat rasa kantuk tak
lagi bisa ia tahan.
Dan pagi pun
datang menjelang. Wangi bunga hasil tanam memberikan kesegaran. Andai saja tak
terdesak waktu, masih ingin rasanya berlama-lama disitu. Raffie harus
bergegas pergi agar tak datang terlambat mengikuti kuliah pagi.
Lalu lintas
jalan mulai dipadati kendaraan. Pengemudi motor memacu kecepatan, seakan
berlomba untuk sampai lebih awal ditujuan. Bising knalpot menggelitik Raffie
menoleh kearah sumber suara. Lampu merah menyala terasa lebih lama dari
biasanya. Jujur ia akui, ada terselip rasa kesal dalam hati. Penunggang sepeda
motor itu kembali membuat knalpotnya bersuara lebih keras dari sebelumnya.
Raffie menahan tarikan nafas panjang dan bersiap tancap gas. Ia tak mengira
sepeda motor disampingnya akan melaju lebih dulu, setelah tahu lampu rambu lalu
lintas berpindah warna menyala. Dan apa yang terjadi, sungguh diluar dugaan
Raffie sebelumnya. Ia berupaya sekuat tenaga agar tak hilang kendali. Namun apa
mau dikata, upaya maksimal tak dapat menghindarkan benturan, dan prakkk...,
tong sampah di trotoar jalan menjadi korban pengalihan laju roda duanya.
Beruntung tak ada kendaraan dibelakang yang menabraknya. Sementara
itu pengendara motor yang telah membuat tersendatnya laju lalu lintas
kendaraan melesat pergi. Raffie coba berpikir mengingat kejadian
yang baru saja dialami. Dalam hati ia bertanya, mengapa orang itu ingin
mencelakainya.
Ditikungan
jalan Raffie dikejutkan pengendara motor yang coba mendahului dengan cara tak
biasa. Lebih terkejut lagi saat ia menyadari pengendara itu orang yang tadi
berusaha mencelakakannya. Raffie pelankan laju kendaraan. Berpikir dan
menduga-duga, siapa orang yang ingin mencelakainya. Salah apa yang telah ia
lakukan, hingga sedemikian niatnya orang itu membuatnya celaka. Baru saja
hendak mempercepat laju motornya, tiba-tiba sebuah kendaraan roda empat
mendahului dan berhenti mendadak tepat didepan mata. Dua orang datang
menghampiri. Mendapati gelagat tidak baik, Raffie bersiap mengantisipasi
kemungkinan terburuk yang akan terjadi.
Tak salah dugaannya. Ia hampir tersungkur jatuh setelah seorang
diantara mereka menendang keras bagian depan sepeda motornya. Tak cukup sampai
disitu, seorang lainnya mendorong Raffie sekuat tenaga sebelum sempat ia
berbuat sesuatu. Perkelahian pun tak dapat lagi dihindari. Raffie terpaksa
harus berjibaku menepis serangan. Ia putuskan untuk bertahan dan sesekali
melayangkan balasan. Seorang lainnya datang mengendarai motor, berusaha
menabraknya. Raffie cepat menghindar semampu yang bisa ia lakukan.
“Bukankah dia orang yang tadi mencelakaiku!?”.
Umpat Raffie dalam hati.
Pertarungan jadi semakin tak seimbang. Ia terpaksa memungut batang pohon guna menghalau terjangan. Raffie terpelanting mundur kebelakang saat kakinya tak sengaja menginjak batang pohon di pinggiran jalan. Hampir saja ia terjatuh. Kesempatan itu mereka manfaatkan untuk melayangkan pukulan dan tendangan padanya. Raffie meringis kesakitan, memegangi perut dengan sebelah tangan. Pukulan lain datang bergantian tanpa sanggup ia hindarkan. Raffie terduduk sambil melindungi leher bagian belakang dengan kedua tangan.
Keberuntungan masih berpihak padanya. Raffie terselamatkan bunyi
sirine yang semakin jelas mendekat. Seseorang memberi isyarat. Serentak mereka
pun bergegas meninggalkan tempat.
Tak lama berselang kendaraan bersirine itu melintas cepat. Raffie
masih terduduk lemas sendiri disana, menunduk sambil menahan rasa sakit di
tubuhnya. Kain bandana dari saku celana ia gunakan untuk menyeka darah yang
mengalir keluar dari hidungnya. Setelah dirasa cukup kuat, perlahan ia bangkit
berdiri, menyalakan mesin motornya, lalu bergerak pergi memutar
arah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Sampaikan komentar anda dengan bijak