Translate

Jejak Kita- Bagian 4

Kali Kedua

Sepeda motor berjejer panjang diparkiran. Lena merapikan rambut dengan kedua tangannya setelah melepas helmet yang ia kenakan. Raffie berjalan perlahan menuntun arah kemana langkah merekan akan tertuju.

Cahaya lampu diruang pertunjukan meredup saat lagu mengalun pilu, bercerita tentang rindu yang tak terbalaskan. Para penikmat untaian nada hanyut terbawa, hingga larut kedalamnya. Tak ada senyum, tak satu pun kata terucap, hanya diam semua menatap. Tepuk tangan riuh terdengar, ending musik berujungkan kalimat. 

Raffie tak sanggup berdiskusi dengan waktu. Ia sadar harus bersahabat dengan etika. Bukan saat yang tepat baginya untuk berdebat. Sikap egois sudah semestinya mengalah pada bijak.

Untuk mendapat tempat dihati Lena, banyak hal harus Raffie pertimbagkan. Cara terbaik saat ini hanya menghargai waktu kebersamaan dengannya. 

Beberapa langkah kedepan larut malam akan tiba. Raffie tak mau terjebak situasi yang akan menghambat upayanya. Sebelum pertunjukan usai digelar, ramah pintanya mengajak Lena untuk pulang.

Ini kali kedua ia pergi bersamanya. Tapi sikap Lena padanya masih dirasa biasa-biasa saja. 

Di depan pagar halaman, ia matikan mesin kendaraan roda duanya,  menepis halus ajakan Lena untuk mampir meski hanya sebentar saja, kemudian pamit pergi dan berlalu.

Bukan tak mau Raffie menyambung waktu kebersamaan, tapi ia sadar harus lebih  mengedepankan etika. Citra baik Lena selama ini ia utamakan lebih dari kepentingannya.

Raffie terpaksa menaikkan sepeda motor keatas trotoar. berlindung di halte bis kota dari curah hujan yang turun tiba-tiba. Ramah senyum ia sapa pria didekatnya. Menunggu reda mereka lewatkan dengan saling berbicara.

Tak terasa setengah jam sudah ia menunda perjalanan menuju arah pulang. Waktu telah menunjukkan pukul dua belas lebih lima saat ia tanyakan pada pria yang masih bersamanya. Lampu penerangan di pertigaan jalan mendadak padam. Bingkainya pecah berserakan dijalan raya. Rupanya tertimpa batang pohon yang patah. Hujan deras dan angin kencang memaksa Raffie tetap bertahan, menunda lebih lama baginya untuk melanjutkan perjalanan.

Setiba ditujuan, Raffie bergegas melepas pakaian. Menyambar handuk, lalu pergi membersihkan diri. 

Selepas mandi, untuk sekedar penghilang rasa lapar, ia habiskan makanan ringan yang tersisa di kamar. Segelas air putih ia teguk perlahan, kemudian bersantai sejenak di pembaringan hingga terlelap saat rasa kantuk tak lagi bisa ia tahan.

Dan pagi pun datang menjelang. Wangi bunga hasil tanam memberikan kesegaran. Andai saja tak terdesak waktu, masih ingin rasanya berlama-lama disitu. Raffie harus bergegas pergi agar tak datang terlambat mengikuti kuliah pagi. 

Lalu lintas jalan mulai dipadati kendaraan. Pengemudi motor memacu kecepatan, seakan berlomba untuk sampai lebih awal ditujuan. Bising knalpot menggelitik Raffie menoleh kearah sumber suara. Lampu merah menyala terasa lebih lama dari biasanya. Jujur ia akui, ada terselip rasa kesal dalam hati. Penunggang sepeda motor itu kembali membuat knalpotnya bersuara lebih keras dari sebelumnya. Raffie menahan tarikan nafas panjang dan bersiap tancap gas. Ia tak mengira sepeda motor disampingnya akan melaju lebih dulu, setelah tahu lampu rambu lalu lintas berpindah warna menyala. Dan apa yang terjadi, sungguh diluar dugaan Raffie sebelumnya. Ia berupaya sekuat tenaga agar tak hilang kendali. Namun apa mau dikata, upaya maksimal tak dapat menghindarkan benturan, dan prakkk..., tong sampah di trotoar jalan menjadi korban pengalihan laju roda duanya. Beruntung tak ada kendaraan  dibelakang yang menabraknya. Sementara itu pengendara  motor yang telah membuat tersendatnya laju lalu lintas kendaraan melesat pergi.  Raffie coba berpikir mengingat kejadian yang baru saja dialami. Dalam hati ia bertanya, mengapa orang itu ingin mencelakainya. 

Ditikungan jalan Raffie dikejutkan pengendara motor yang coba mendahului dengan cara tak biasa. Lebih terkejut lagi saat ia menyadari pengendara itu orang yang tadi berusaha mencelakakannya. Raffie pelankan laju kendaraan. Berpikir dan menduga-duga, siapa orang yang ingin mencelakainya. Salah apa yang telah ia lakukan, hingga sedemikian niatnya orang itu membuatnya celaka. Baru saja hendak mempercepat laju motornya, tiba-tiba sebuah kendaraan roda empat mendahului dan berhenti mendadak tepat didepan mata. Dua orang datang menghampiri. Mendapati gelagat tidak baik, Raffie bersiap mengantisipasi kemungkinan terburuk yang akan terjadi.

Tak salah dugaannya. Ia hampir tersungkur jatuh setelah seorang diantara mereka menendang keras bagian depan sepeda motornya. Tak cukup sampai disitu, seorang lainnya mendorong Raffie sekuat tenaga sebelum sempat ia berbuat sesuatu. Perkelahian pun tak dapat lagi dihindari. Raffie terpaksa harus berjibaku menepis serangan. Ia putuskan untuk bertahan dan sesekali melayangkan balasan. Seorang lainnya datang mengendarai motor, berusaha menabraknya. Raffie cepat menghindar semampu yang bisa ia lakukan. 

“Bukankah dia orang yang tadi mencelakaiku!?”.

Umpat Raffie dalam hati. 

Pertarungan jadi semakin tak seimbang. Ia terpaksa memungut batang pohon guna menghalau terjangan. Raffie terpelanting mundur kebelakang saat kakinya tak sengaja menginjak batang pohon di pinggiran jalan. Hampir saja ia terjatuh. Kesempatan itu mereka manfaatkan untuk melayangkan pukulan dan tendangan padanya. Raffie meringis kesakitan, memegangi perut dengan sebelah tangan. Pukulan lain datang bergantian tanpa sanggup ia hindarkan. Raffie terduduk sambil melindungi leher bagian belakang dengan kedua tangan.

Keberuntungan masih berpihak padanya. Raffie terselamatkan bunyi sirine yang semakin jelas mendekat. Seseorang memberi isyarat. Serentak mereka pun bergegas meninggalkan tempat.

Tak lama berselang kendaraan bersirine itu melintas cepat. Raffie masih terduduk lemas sendiri disana, menunduk sambil menahan rasa sakit di tubuhnya. Kain bandana dari saku celana ia gunakan untuk menyeka darah yang mengalir keluar dari hidungnya. Setelah dirasa cukup kuat, perlahan ia bangkit berdiri, menyalakan mesin motornya, lalu bergerak pergi memutar arah.  

Selanjutnya >>>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sampaikan komentar anda dengan bijak