Translate

Jejak Kita - Bagian 2

Merindu

    Matahari mulai tenggelam di upuk sana. Cahaya jingga merambat di sela-sela pohon ditepian jalan. Terbayang pesisir pantai dengan sunset dan debur ombak diiringi hembusan angin menyapu daun-daun kering di sepanjang jalan. Pasir terhampar menanti sentuhan ombak bergerai bagai bidadari menanti belaian kekasihnya.

Mendekati gerbang kampus Raffie mempercepat langkah,  coba menghindar dari orang-orang yang ia kenal. Melangkah perlahan diatas trotoar setelah menyeberangi jalan. 

Adzan magrib berkumandang saat ia sampai di halaman rumah kediaman temannya. Pintu depan sedikit terbuka pertanda penghuni rumah ada di dalam sana.

Baru saja Dion selesai mandi saat Raffie datang menghampiri. Dia  usapkan handuk pada rambut basah sambil berjalan menuju kamar. Raffie mendekat kearahya. Dion menoleh, lalu mengajak Raffie masuk tanpa basa-basi terlebih dulu.

Raffie meraih teko dikarpet lantai, menuangkan air kedalam gelas kemudian meneguknya hingga tetes terakhir. 

“Wajahmu berantakan sekali Fie”.

Ucap Dion sambil mengenakan pakaian. 

 “Sana pergi mandi dulu, biar fresh!”.

Lanjut Dion.  

Ia lemparkan handuk ke arah temannya. Raffie bergegas pergi mandi seperti yang Dion minta. 

Selepas isya dia ajak Raffie untuk pergi makan. Warung-warung tenda penjual makanan berjejer di sepanjang jalan. Dion memilih warung tenda dengan sajian makanan khas kota Jogya. Lama juga ia tak menyantap sayur nangka dengan butiran telur disajiannya. 

Dua porsi gudeg khas Jogya  pun dipesan untuk mereka berdua. 

“Selesai makan aku akan ke mini market dulu. Ada beberapa barang harus aku beli sekarang. Besok pagi mungkin tak akan sempat. Ada kuliah pagi”.

Sahut Dion disela-sela santapannya. Raffie mengangguk tanpa kata. 

Beberapa barang seperti kopi, gula putih, teh celup, mie instan dan sebungkus susu full cream telah menjadi kebutuhan rutin untuk dia beli. Perlengkapan mandi tak lupa Dion masukkan dalam daftar belanjaannya. Alat pencukur, deodorant, pewangi ruangan dan parfum dengan wangi kesukaannya tak ingin ia lewatkan.

Kini semua kebutuhan telah bersarang di keranjang, tinggal menyelesaikan pembayaran di kasir setelah sebelumnya menambahkan dua bungkus rokok, lalu bergegas pulang.

Suasana mulai terasa sepi. Sebagian penghuni sudah lelap dengan mimpinya masing-masing. Raffie menaruh dua kantong plastik dan satu dus mie instan di pojokan kamar.

Dion membuka obrolan dengan tanya tentang bagaimana hasil pertemuan sambil menyeduhkan dua cangkir kopi.

Raffie menuturkan apa yang menjadi kesimpulan dari hasil pertemuannya tadi siang. Dion menyimak penjelasan tanpa memotong setiap kalimat yang disampaikan. Sesekali ia teguk kopi seduhannya tanpa beralih fokus ke hal lainnya.

Kalimat akhir penuturan Raffie Dion sambung dengan cerita aktifitasnya seharian tadi setelah memberi jeda beberapa saat. Tak satupun ia lewatkan.

Raffie menyimak setiap kalimat yang disampaikan.      

Dengan caranya sendiri Dion coba memberi support, berharap Raffie mendapat tempat istimewa di hati Lena, wanita yang menjadi motivasi dan inspirasi Raffie dalam berkarya. 

Raffie mengerti maksud temannya ini. Upaya Dion menjadikan Lena sebagai wanita istimewa baginya dapat ditangkap meski tak ia ungkap. 

“Kau ini asal saja kalau bicara. Untuk apa juga dia tanyain aku”.

Raffie menyahut sekenanya. 

“Sudahlah Di, simpan dulu niatmu untuk obrolan esok hari. Lagi pula tak yakin kalau dia mau sama aku. Kau kan tahu bagaimana dia. Mungkin hanya ingin berteman saja, seperti ia berteman dengan teman-teman lainnya”.

Bantah Raffie sembari menyandarkan diri ke dinding kamar.  

Dion  menepuk pundak Raffie tanpa kata. Raffie terdiam, menarik nafas panjang sambil ia pandangi langit-langit kamar. Di raihnya cangkir kopi hangat, diteguknya perlahan, kemudian ia taruh kembali ke tempat semula. Sejenak ia pandangi tumpukan buku di atas meja, lalu kembali menatap langit-langit kamar, seolah ada sesuatu di sana. 

"Sudah lama aku tak pulang kampung. Aku ingin memastikan orang tuaku baik-baik saja disana".

Ucap Raffie singkat. 

Suasana hening sejenak. Deru mesin sepeda motor yang leawat di depan rumah mendorong Raffie kembali bertutur kata. 

“Tadi siang aku bertemu teman sekampung. Kebetulan baru pulang dari sana. Ia bilang orang tuaku sakit, tapi tak sampai dirawat. Aku hanya heran saja mengapa mereka tak memberi aku kabar”. 

Raffie kembali terdiam. Matanya tertuju pada pojokan kamar. Dengan kening berkerut ia angguk-anggukan kepala.    

“Aku mengerti mengapa mereka tak memberiku kabar. Mungkin tak ingin mengganggu konsentrasi belajarku”.

kilahnya menuturkan.  

Kini Dion tahu, kenapa Raffie tampak murung sejak ia datang kesini . 

“Betul juga kata Raffie. Lebih baik aku simpan obrolan tentang Lena untuk lain waktu saja”.

Umpat Dion dalam hati. 

“Ya sudah, besok sepulang kuliah kita pergi kesana. Berdo’a saja semoga tak terjadi apa-apa dengan orang tuamu”.

Pungkas Dion mengakhiri obrolan. 

Jam dinding  tak henti berdetak, terdengar jelas memenuhi ruang kamar. Rasa kantuk menggelayut di kelopak mata.  Malam pun kian larut mengajak lelap di tidurnya. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sampaikan komentar anda dengan bijak