Mendekati gerbang kampus Raffie mempercepat langkah, coba
menghindar dari orang-orang yang ia kenal. Melangkah perlahan diatas trotoar
setelah menyeberangi jalan.
Adzan magrib berkumandang saat ia sampai di halaman rumah kediaman
temannya. Pintu depan sedikit terbuka pertanda penghuni rumah ada di dalam
sana.
Baru saja Dion selesai mandi saat Raffie datang menghampiri. Dia usapkan handuk pada rambut basah sambil berjalan menuju kamar. Raffie mendekat kearahya. Dion menoleh, lalu mengajak Raffie masuk tanpa basa-basi terlebih dulu.
Raffie meraih teko dikarpet lantai, menuangkan air kedalam gelas kemudian meneguknya hingga tetes terakhir.
“Wajahmu berantakan sekali Fie”.
Ucap Dion sambil mengenakan pakaian.
“Sana pergi mandi dulu, biar fresh!”.
Lanjut Dion.
Ia lemparkan handuk ke arah temannya. Raffie bergegas pergi
mandi seperti yang Dion minta.
Selepas isya
dia ajak Raffie untuk pergi makan. Warung-warung tenda penjual makanan berjejer
di sepanjang jalan. Dion memilih warung tenda dengan sajian makanan khas kota
Jogya. Lama juga ia tak menyantap sayur nangka dengan butiran telur
disajiannya.
Dua porsi gudeg khas Jogya pun dipesan untuk mereka berdua.
“Selesai makan aku akan ke mini market dulu. Ada beberapa barang
harus aku beli sekarang. Besok pagi mungkin tak akan sempat. Ada kuliah pagi”.
Sahut Dion disela-sela santapannya. Raffie mengangguk tanpa kata.
Beberapa barang seperti kopi, gula putih, teh celup, mie instan
dan sebungkus susu full cream telah menjadi kebutuhan rutin untuk dia beli.
Perlengkapan mandi tak lupa Dion masukkan dalam daftar belanjaannya. Alat pencukur,
deodorant, pewangi ruangan dan parfum dengan wangi kesukaannya tak ingin ia
lewatkan.
Kini semua kebutuhan telah bersarang di keranjang, tinggal
menyelesaikan pembayaran di kasir setelah sebelumnya menambahkan dua bungkus
rokok, lalu bergegas pulang.
Suasana mulai
terasa sepi. Sebagian penghuni sudah lelap dengan mimpinya masing-masing.
Raffie menaruh dua kantong plastik dan satu dus mie instan di pojokan kamar.
Dion membuka obrolan dengan tanya tentang bagaimana hasil
pertemuan sambil menyeduhkan dua cangkir kopi.
Raffie menuturkan apa yang menjadi kesimpulan dari hasil
pertemuannya tadi siang. Dion menyimak penjelasan tanpa memotong setiap
kalimat yang disampaikan. Sesekali ia teguk kopi seduhannya tanpa beralih fokus
ke hal lainnya.
Kalimat akhir penuturan Raffie Dion sambung dengan cerita
aktifitasnya seharian tadi setelah memberi jeda beberapa saat. Tak satupun ia
lewatkan.
Raffie menyimak setiap kalimat yang
disampaikan.
Dengan caranya sendiri Dion coba memberi support, berharap Raffie
mendapat tempat istimewa di hati Lena, wanita yang menjadi motivasi dan
inspirasi Raffie dalam berkarya.
Raffie mengerti maksud temannya ini. Upaya Dion menjadikan Lena sebagai wanita istimewa baginya dapat ditangkap meski tak ia ungkap.
“Kau ini asal saja kalau bicara. Untuk apa juga dia tanyain aku”.
Raffie menyahut sekenanya.
“Sudahlah Di, simpan dulu niatmu untuk obrolan esok hari. Lagi
pula tak yakin kalau dia mau sama aku. Kau kan tahu bagaimana dia. Mungkin
hanya ingin berteman saja, seperti ia berteman dengan teman-teman lainnya”.
Bantah Raffie sembari menyandarkan diri ke dinding kamar.
Dion menepuk pundak Raffie tanpa kata. Raffie terdiam, menarik nafas panjang sambil ia pandangi langit-langit kamar. Di raihnya cangkir kopi hangat, diteguknya perlahan, kemudian ia taruh kembali ke tempat semula. Sejenak ia pandangi tumpukan buku di atas meja, lalu kembali menatap langit-langit kamar, seolah ada sesuatu di sana.
"Sudah lama aku tak pulang kampung. Aku ingin memastikan
orang tuaku baik-baik saja disana".
Ucap Raffie singkat.
Suasana hening sejenak. Deru mesin sepeda motor yang leawat di depan rumah mendorong Raffie kembali bertutur kata.
“Tadi siang aku bertemu teman sekampung. Kebetulan baru pulang dari sana. Ia bilang orang tuaku sakit, tapi tak sampai dirawat. Aku hanya heran saja mengapa mereka tak memberi aku kabar”.
Raffie kembali terdiam. Matanya tertuju pada pojokan kamar. Dengan kening berkerut ia angguk-anggukan kepala.
“Aku mengerti mengapa mereka tak memberiku kabar. Mungkin tak ingin
mengganggu konsentrasi belajarku”.
kilahnya menuturkan.
Kini Dion tahu, kenapa Raffie tampak murung sejak ia datang kesini .
“Betul juga kata Raffie. Lebih baik aku simpan obrolan tentang
Lena untuk lain waktu saja”.
Umpat Dion dalam hati.
“Ya sudah, besok sepulang kuliah kita pergi kesana. Berdo’a saja
semoga tak terjadi apa-apa dengan orang tuamu”.
Pungkas Dion mengakhiri obrolan.
Jam dinding tak henti berdetak, terdengar jelas
memenuhi ruang kamar. Rasa kantuk menggelayut di kelopak mata. Malam pun
kian larut mengajak lelap di tidurnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Sampaikan komentar anda dengan bijak