Translate

Tampilkan postingan dengan label Roman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Roman. Tampilkan semua postingan

Jejak Kita - Bagian 10

 

Arti Sahabat

Udara sore ini cukup dingin bagi para pengendara roda dua. Namun mendung yang datang tak menghalangi mereka untuk terus melanjutkan perjalanan. Raffie membuka jaket yang ia kenakan, lalu meminta Lena untuk memakainya. Sweater merah ia keluarkan dari tas gendong, kemudian ia pakai setelah sebelumnya memasangkan rompi motor terlebih dahulu.

Lalu lintas di jalan raya tak begitu padat, sehingga ia lebih leluasa berkendara dengan kecepatan diatas 30 km/jam. Laju kendaraan melambat ketika lampu lalu litas di perempatan jalan menyala kuning, kemudian berhenti saat detik-detik berikutnya menyala merah. Raffie menyempatkan diri menoleh kebelakang sambil bertanya, untuk memastikan jika Lena tidak mengantuk atau mugkin tertidur. Lena pun menyahut untuk meyakinkan Raffie bahwa ia baik-baik saja dan tetap terjaga. Saat lampu lalu lintas menyala hijau, satu persatu kendaraan kembali melaju dengan kecepatannya masing-masing.

Jejak Kita - Bagian 9

Kompetisi

Waktu menuju pemilihan hanya tersisa 20 hari kedepan. Panitia penyelenggara hasil bentukan yang telah disepakati oleh dua pertiga dari pengurus yang ada saat ini, bersepakat memilih tempat musyawarah di Gedung Olahraga, yang letaknya cukup jauh dari pusat keramaian kota. Keputusan tersebut diambil, selain atas pertimbangan keamanan, juga hal-hal lain yang dapat mempengaruhi keberlangsungan musyawarah pada waktunya. Sementara itu, publikasi kegiatan tersebut telah disampaikan baik melalui undangan maupun pemberitaan dimedia cetak lokal, dan situs online tertentu. Pemasangan baliho dan spanduk rencananya baru akan dipasang tiga hari menjelang waktu pelaksanaan, dan di tempatkan di pusat kegiatan, juga tempat-tempat strategis lainnya, sesuai dengan budget anggaran yang telah ditetapkan.

Jejak Kita - Bagian 8

Kesungguhan

Senja beranjak pergi ketika malam datang menjelang. Raffie terbaring sendiri menahan dingin, meski selimut tebal menutupi sekujur tubuh. Diatas sana Kerlip bintang dan cahaya bulan tertutup awan hitam. Angin berhembus kencang, menyapu daun-daun kering hingga berterbangan. Raffie menggigil, mendekap erat tubuhnya sendiri melawan rasa dingin sekuat tenaga. Malam tampak mencekam ketika deras hujan turun disertai kilatan petir yang seakan tak henti menyambar. Raffie memaksakan diri beranjak, mengambil sebutir pil dan segelas air, berharap banyak mampu meredakan demam dan sakit yang ia rasakan dikepalanya.

Efek obat mulai bekerja beberapa lama kemudian. Rasa kantuk pun perlahan mengantarkan Raffie terlelap tidur hingga pagi datang menjelang.

Jejak Kita - Bagian 7

 
Konspirasi     

Aroma wangi kopi memberi kehangatan suasana pagi di pelataran rumah mewah berpagar besi dengan kombinasi ukiran kayu jati. Bagian garasi terisi dua buah mobil berkelas yang berderet rapi. Lampu taman masih menyala. Mungkin pemilik  rumah sengaja membiarkan lampu lebih lama bercahaya, karena mentari masih tersembunyi dibalik awan tinggi. Yodha meminta penjaga rumah untuk memeriksa, siapa yang membunyikan bel diluar pagar halaman rumahnya. Setelah dipastikan pengunjung rumah adalah orang yang ditunggu majikannya, ia mempersilahkan tamu untuk masuk dengan tersenyum ramah.

Jejak Kita - Bagian 6

Prasangka

Reni mengajak Lena mempercepat langkahnya saat rintik hujan datang menyapa. Mall pusat perbelanjaan tak jauh dari jangkauan, menjadi sasaran tempat untuk mereka berteduh. Angin berhembus kencang, berputar-putar tak terkendali. Curah hujan bagai penari ular, meliuk-liuk ke segala arah dibawa kendali angin. Rupanya alam ingin menunjukkan kekuatannya pada penghuni bumi, agar mereka tak angkuh dan senantiasa ingat akan kuasa Tuhan.

Suasana menjadi semakin menakutkan ketika tenda-tenda pelindung barang dagangan berterbangan.  Papan reklame yang tampak kokoh ikut bergoyang, lampu-lampu mendadak padam. Lena dan Reni beranjak masuk area perbelanjaan, saling memeluk mencari tempat perlindungan yang meraka rasa lebih aman.

Jejak Kita - Bagian 5

Gak Ngerti

Dering telepon membuatnya tersadar dari lamunan. Raffie beranjak perlahan mengambil ponsel yang tergeletak di meja. Nama panggilan masuk yang tertera di layar handphone membuat ia berpikir. Jawab, atau biarkan saja sampai tak lagi berdering. Timbang menimbang berakhir diujung keputusan. Tombol terima ia tekan dan mulai bicara. Kalimat pertanyaan  pertama yang ia dengar langsung dijawab dengan singkat. Dion lanjut pertanyakan kabar dan sedang dimana ia berada. Raffie sengaja tak memberi tahu, apa yang telah dialaminya beberapa hari kebelakang.  

“Jangan kemana-mana dulu Fie, aku berangkat ke tempatmu sekarang”.  

Dion menutup telepon setelah mendapat jawaban. Raffie cepat berganti pakaian. Sweater hitam ia pilih untuk menutupi luka ditubuhnya. Raffie sempat kebingungan saat bercermin. Luka lebam di bawah kelopak mata masih jelas terlihat nyata.

Jejak Kita- Bagian 4

Kali Kedua

Sepeda motor berjejer panjang diparkiran. Lena merapikan rambut dengan kedua tangannya setelah melepas helmet yang ia kenakan. Raffie berjalan perlahan menuntun arah kemana langkah merekan akan tertuju.

Cahaya lampu diruang pertunjukan meredup saat lagu mengalun pilu, bercerita tentang rindu yang tak terbalaskan. Para penikmat untaian nada hanyut terbawa, hingga larut kedalamnya. Tak ada senyum, tak satu pun kata terucap, hanya diam semua menatap. Tepuk tangan riuh terdengar, ending musik berujungkan kalimat. 

Raffie tak sanggup berdiskusi dengan waktu. Ia sadar harus bersahabat dengan etika. Bukan saat yang tepat baginya untuk berdebat. Sikap egois sudah semestinya mengalah pada bijak.

Jejak Kita- Bagian 3

Seikat Janji

Dingin menyelimuti sebagian kota kembang pagi itu. Lena bergegas pergi setelah roti bakar yang dipesan  ia terima. Gerak langkahnya  menarik beberapa pasang mata menoleh kearahnya. Sementara hujan belum juga reda saat sampai di pelataran rumah dimana ia tinggal.

Beberapa potong roti bakar dan segelas kopi susu bergantian mengisi perutnya yang kosong. 

Setelah merapikan kamar dan membersihkan diri, dipandangi cermin sambil merapikan pakaian yang ia kenakan. T-shirt putih, celana jeans serta ikat pinggang hitam dan sepatu sport putih di kedua kaki memberi kesan ceria diwajahnya. Ia pilih tas coklat tua untuk menyimpan alat tulis, handphone, dompet dan beberapa barang kecil lainnya.

Jejak Kita - Bagian 1

Perkenalan

  Hari yang cerah mendorong Raffie pergi menuju kediaman temannya. Letaknya tak jauh dari tempat dimana ia tinggal. Hanya butuh waktu tempuh kurang lebih  seperempat jam saja untuk sampai disana.
Ia pikir tak apa-apa  jika sepagi ini mampir untuk sekedar menikmati secangkir kopi, seperti juga yang biasa temannya lakukan.
Di ujung jalan Raffie berpapasan dengan teman yang akan ia tuju. Usai bertegur sapa, mereka bergegas pergi.
Selang beberapa saat, Dion menerima nasi bungkus yang di sodorkan padanya. Sambil menunggu uang kembalian, mereka berbincang, sekedar memanfaatkan jeda waktu.

Mereka segera pergi setelah menerima uang kembalian.  Tak perlu waktu lama untuk sampai di tujuan. Tanpa pikir panjang mereka buka bungkusan nasi, melahapnya hingga tuntas.

Raffie dan Dion mulai berteman sejak bertemu di kegiatan penerimaan Mahasiswa/i baru. Meski berlainan fakultas, komunikasi antara keduanya berjalan tanpa halangan.

Raffie mahasiswa  fakultas ekonomi, sedangkan Dion mahasiswa fakultas hukum. Raffie memilih Kumpulan Seni Mahasiswa (KSM) sebagai sarana penyaluran hobi dan bakatnya dalam berkesenian. ia  juga tergabung di Badan Eksekutif  Mahasiswa (BEM), tempat dimana ia menuangkan gagasan, ide dan pemikirannya. Sementara Dion memilih bergabung dengan Kumpulan Mahasiswa Pecinta Alam (KMPA).

Tanpa diminta Dion menuangkan air panas ke dalam cangkir berisi campuran gula dan kopi. Satu cangkir ia sodorkan untuk Raffie, cangkir lainnya ia letakkan tak jauh darinya. Obrolan pagi dengan dua cangkir kopi sepertinya memberi kehangatan tersendiri.