Translate

Jejak Kita - Bagian 5

Gak Ngerti

Dering telepon membuatnya tersadar dari lamunan. Raffie beranjak perlahan mengambil ponsel yang tergeletak di meja. Nama panggilan masuk yang tertera di layar handphone membuat ia berpikir. Jawab, atau biarkan saja sampai tak lagi berdering. Timbang menimbang berakhir diujung keputusan. Tombol terima ia tekan dan mulai bicara. Kalimat pertanyaan  pertama yang ia dengar langsung dijawab dengan singkat. Dion lanjut pertanyakan kabar dan sedang dimana ia berada. Raffie sengaja tak memberi tahu, apa yang telah dialaminya beberapa hari kebelakang.  

“Jangan kemana-mana dulu Fie, aku berangkat ke tempatmu sekarang”.  

Dion menutup telepon setelah mendapat jawaban. Raffie cepat berganti pakaian. Sweater hitam ia pilih untuk menutupi luka ditubuhnya. Raffie sempat kebingungan saat bercermin. Luka lebam di bawah kelopak mata masih jelas terlihat nyata.

Jejak Kita- Bagian 4

Kali Kedua

Sepeda motor berjejer panjang diparkiran. Lena merapikan rambut dengan kedua tangannya setelah melepas helmet yang ia kenakan. Raffie berjalan perlahan menuntun arah kemana langkah merekan akan tertuju.

Cahaya lampu diruang pertunjukan meredup saat lagu mengalun pilu, bercerita tentang rindu yang tak terbalaskan. Para penikmat untaian nada hanyut terbawa, hingga larut kedalamnya. Tak ada senyum, tak satu pun kata terucap, hanya diam semua menatap. Tepuk tangan riuh terdengar, ending musik berujungkan kalimat. 

Raffie tak sanggup berdiskusi dengan waktu. Ia sadar harus bersahabat dengan etika. Bukan saat yang tepat baginya untuk berdebat. Sikap egois sudah semestinya mengalah pada bijak.

Jejak Kita- Bagian 3

Seikat Janji

Dingin menyelimuti sebagian kota kembang pagi itu. Lena bergegas pergi setelah roti bakar yang dipesan  ia terima. Gerak langkahnya  menarik beberapa pasang mata menoleh kearahnya. Sementara hujan belum juga reda saat sampai di pelataran rumah dimana ia tinggal.

Beberapa potong roti bakar dan segelas kopi susu bergantian mengisi perutnya yang kosong. 

Setelah merapikan kamar dan membersihkan diri, dipandangi cermin sambil merapikan pakaian yang ia kenakan. T-shirt putih, celana jeans serta ikat pinggang hitam dan sepatu sport putih di kedua kaki memberi kesan ceria diwajahnya. Ia pilih tas coklat tua untuk menyimpan alat tulis, handphone, dompet dan beberapa barang kecil lainnya.

Jejak Kita - Bagian 2

Merindu

    Matahari mulai tenggelam di upuk sana. Cahaya jingga merambat di sela-sela pohon ditepian jalan. Terbayang pesisir pantai dengan sunset dan debur ombak diiringi hembusan angin menyapu daun-daun kering di sepanjang jalan. Pasir terhampar menanti sentuhan ombak bergerai bagai bidadari menanti belaian kekasihnya.

Mendekati gerbang kampus Raffie mempercepat langkah,  coba menghindar dari orang-orang yang ia kenal. Melangkah perlahan diatas trotoar setelah menyeberangi jalan. 

Adzan magrib berkumandang saat ia sampai di halaman rumah kediaman temannya. Pintu depan sedikit terbuka pertanda penghuni rumah ada di dalam sana.

Baru saja Dion selesai mandi saat Raffie datang menghampiri. Dia  usapkan handuk pada rambut basah sambil berjalan menuju kamar. Raffie mendekat kearahya. Dion menoleh, lalu mengajak Raffie masuk tanpa basa-basi terlebih dulu.

Jejak Kita - Bagian 1

Perkenalan

  Hari yang cerah mendorong Raffie pergi menuju kediaman temannya. Letaknya tak jauh dari tempat dimana ia tinggal. Hanya butuh waktu tempuh kurang lebih  seperempat jam saja untuk sampai disana.
Ia pikir tak apa-apa  jika sepagi ini mampir untuk sekedar menikmati secangkir kopi, seperti juga yang biasa temannya lakukan.
Di ujung jalan Raffie berpapasan dengan teman yang akan ia tuju. Usai bertegur sapa, mereka bergegas pergi.
Selang beberapa saat, Dion menerima nasi bungkus yang di sodorkan padanya. Sambil menunggu uang kembalian, mereka berbincang, sekedar memanfaatkan jeda waktu.

Mereka segera pergi setelah menerima uang kembalian.  Tak perlu waktu lama untuk sampai di tujuan. Tanpa pikir panjang mereka buka bungkusan nasi, melahapnya hingga tuntas.

Raffie dan Dion mulai berteman sejak bertemu di kegiatan penerimaan Mahasiswa/i baru. Meski berlainan fakultas, komunikasi antara keduanya berjalan tanpa halangan.

Raffie mahasiswa  fakultas ekonomi, sedangkan Dion mahasiswa fakultas hukum. Raffie memilih Kumpulan Seni Mahasiswa (KSM) sebagai sarana penyaluran hobi dan bakatnya dalam berkesenian. ia  juga tergabung di Badan Eksekutif  Mahasiswa (BEM), tempat dimana ia menuangkan gagasan, ide dan pemikirannya. Sementara Dion memilih bergabung dengan Kumpulan Mahasiswa Pecinta Alam (KMPA).

Tanpa diminta Dion menuangkan air panas ke dalam cangkir berisi campuran gula dan kopi. Satu cangkir ia sodorkan untuk Raffie, cangkir lainnya ia letakkan tak jauh darinya. Obrolan pagi dengan dua cangkir kopi sepertinya memberi kehangatan tersendiri.